PLN Bangun PLTA di Papua


Langkah PLN Atasi Listrik di Wilayah Indonesia Timur

JAKARTA – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus bergerak cepat untuk menyuplai dan menangani kebutuhan listrik di Indonesia Timur. Untuk wilayah Papua, BUMN setrum itu membatalkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan memilih membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Hal itu disampaikan Dirut PLN Dahlan Iskan dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi VII DPR RI kemarin (17/2). Dahlan mengungkapkan, di Timika semula akan dibangun PLTU berkapasitas 2 x 7 MW. ”Jadi, cuma 14 MW. Tetapi, dalam tender pertama, tidak ada yang ikut karena HPS-nya (harga perkiraan sendiri) kerendahan,” tuturnya.

Karena itu, PLN memutuskan mengadakan tender ulang. Sayangnya, dalam tender kedua ini, peserta atau kontraktor memberikan harga penawaran tiga kali lipat dibandingkan HPS. Itu berarti mereka mengajukan biaya USD 64 juta (sekitar Rp 600 miliar). ”Untuk membangun PLTU yang begitu repot (suplai) batu baranya, kita harus mengeluarkan Rp 600 miliar. Ini tentu harus kita pikir ulang apakah harus tetap dibangun,” ujarnya.

Karena itu, kata Dahlan, PLN punya pemikiran bagaimana seandainya Rp 600 miliar itu dibagi dua. Sekitar Rp 300 miliar digunakan untuk membangun transmisi sepanjang 100 kilometer. Lalu, Rp 300 miliar lainnya untuk membangun PLTA.

Lantas, apakah dengan transmisi sepanjang itu, bisa ditemukan sumber air di Papua? ”Kita sudah minta data, dan ternyata ada 59 sumber air di Papua. Satu di antaranya yang dekat dengan Timika. Akan kami lihat dalam waktu dekat berapa jaraknya. Tetapi, kami yakin tidak sampai 100 kilo,” kata Dahlan.

Menurut Dahlan, seandainya data itu betul, kebutuhan listrik di Timika bisa diatasi dengan membangun PLTA. Rencana membangun PLTU dibatalkan meski itu sudah masuk dalam program 10 ribu MW. ”Meskipun ada 59 sumber air di Papua, kita bangun satu dulu di Timika,” ujarnya.

Mengenai realisasi proyek itu, Dahlan menyatakan PLN bakal mengerjakan secepatnya. Saat ini, terang dia, rencana pembangunan PLTA itu dalam tahap studi. Terutama, mencari tahu jarak sebenarnya antara sumber air dan kota yang membutuhkan. ”Selama ini di Timika digunakan PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel) 5 MW. (Pembangkit) itu boros (BBM) banget,” terangnya.

Untuk Ambon, Dahlan mengatakan akan dibangun PLTG atau pembangkit listrik tenaga geotermal (panas bumi) dengan kapasitas kira-kira 2 x 10 MW. Sebab, kata dia, pembangkit listrik di Ambon butuh biaya sangat mahal.

”Tapi, sebesar apa pun, biaya untuk membangun pembangkit geotermal tetap lebih feasible daripada harus membangun PLTU sekalipun. Karena itu, pembangkit geotermal di Ambon akan kita jadikan percontohan bagaimana membangun yang sangat cepat,” paparnya.

Direktur Pembangkitan Indonesia Bagian Timur PLN Vickner Sinaga membenarkan tidak terjadinya kesepakatan harga dalam pembangunan PLTU di Timika. Kontraktor menawarkan harga USD 64 juta. Angka itu dinilai terlalu mahal karena idealnya hanya USD 21 juta.

Karena itulah, ungkap dia, PLN mencari alternatif lain. Salah satunya melakukan studi tentang pembangunan PLTA. ”Saat ini defisit listrik di Timika tidak terlalu mengkhawatirkan,” jelasnya. (wir/dwi)

(sumber : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=117998)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: