ADA APA DI PAPUA BARAT DAN AMBALAT JELANG PILPRES ?


Ambalat

Ambalat

Oleh : Fred Wakum

Bila kita amati dengan saksama, berbagai kejadian (baca: ketegangan) yang tengah berlangsung akhir-akhir ini di Tanah Papua maupun Ambalat sebelum Pilpres di laksanakan. Secara kritis patut kita bertanya-tanya : Apa yang menjadi latar belakang dibalik semua skenario ketegangan dari Papua hingga konfrontasi perbatasan di Ambalat antara RI- Malaysia, adakah benang merah yang menghubungkan semua ini ?

Sepintas lalu, aktivitas OPM di Papua yang selalu meningkat menjelang Pemilu atau Pilres dan kini ditambah lagi dengan ketegangan Ambalat seakan-akan dua kasus yang berdiri sendiri-sendiri.

Kasus Papua adalah perjuangan murni rakyat Papua untuk merdeka dengan memisahkan dari Republik Indonesia. yang oleh Pemerintah Indonesia kemudian di berikan lebel sebagai Pemberontak / separatis atau sebutan lainnya. Sedangkan masalah Ambalat adalah kasus perebutan (baca : saling klaim) wilayah tak tersentuh pembangunan (baca: terbengkalai) antara pemerintah Indonesia dan Malaysia.

Ternyata kedua kasus yang sepintas lalu tidak ada hubungan ini, jika diamati dengan serius maka ada “benang merah” yang dapat menghubungkannya, yaitu : upaya membangkitkan “Nasionalisme Indonesia” sebelum dan sedudah Pilpres di Indonesia berlangsung.

Mengapa demikian ? Seperti kita ketahui, bahwa para Jendral “terbaik” Indonesia saat sedang bertarung untuk memperebutkan jabatan kursi RI-1 dan RI-2. Sebut saja Jendral Susilo Bambang Yudoyono yang berambisi memperpanjang jabatannya untuk yang kedua kali, dan Jendral Wiranto maupun Jendral Prabowo yang ingin merasakan nikmatnya kursi kepresinenan, walaupun hanya sebagai wakil.

Pertarungan ketiga jendral ini bisa saja berdampak pada stabilitas negara Indonesia. Karena walaupun mereka telah pensiun, tapi masih mempunyai pengikut dan pengagum fanatik yang setia menjalankan perintah mereka dikalangan militer aktif maupun masyarakat “semi militer” dan para profesional. Sehingga dengan sebuah suatu instruksi dari pada Jendral tersebut kepada para pengikutnya, maka pesta demokrasi berharga Trilyunan Rupiah bisa gagal.

Disamping itu reputasi jelek ketiga Jendral ini sudah terbukti dan terpatri dengan rapih dalam setiap benak masyarakkat Indonesia, mulai dari penyerbuan gedung PDI-P , Penghilangkan Mahasiswa hingga kekerasan di Dilli. Sehingga tidak mjustahil, jika seorang jendral merasa dicurangi, maka tidak mustahil yang mengacaukan pesta demokrasi yang sedang berkalu saat ini.

Faktor selanjutnya adalah Masyarakat Indonesia saat ini sedang terbagi dalam 4 Kubu yakni, Kubu Mgawati – Prabowo, Kubu SBY – Budiono Kubu JK-WIN dan kubu Golput yang melihat pilpres saat ini sebagai lawakan demokrasi terbesar didunia, karena melibatkan jumlah penduduk terbesar nomor dunia.

Sehingga untuk mempersatukan Masyarakat Indonesia yang tercerai berai dalam 4 kubu, maka perlu “DICIPTAKAN” suatu konflik yang sebagai “MUSUH BERSAMA NKRI”, agar masyarakat Indonesia tetap bersatu dan mempunyai semangat Nasionalis dalam mensukseskan Pilpres mendatang bukan saling serang Negara sendiri.

Sehingga tidak berkelebihan kita katakan bahwa : Masalah keamanan di Papua dan Konflik di Ambalat adalah suatu kondisi yang harus diciptakan dengan sadar oleh Pemerintah Indonesia melalui badan-badan berwenang sebagai “tumbal yang dikorbankan“ untuk mensukseskan Pemilu Maupun Pilpres dengan tetap memelihara Nasionalisme Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: