MENGAMATI “PERTARUNGAN” CALEG DI TIMIKA


MENGAMATI  “PERTARUNGAN” CALEG  DI TIMIKA

Oleh : Fredrik Wakum

fred7Kurang lebih dari  500 Caleg yang telah terdaftar pada KPUD Timika akan bertarung untuk memperebutkan 25 kursi DPRD Mimika pada pemilu 2009 mendatang. Komposisi para calegpun beraneka – ragam,  mulai dari mantan anggota legislatif, pengusaha, karyawan  hingga profesi lainnya dengan tingkat pemahaman politik yang berbeda-beda berdasarkan pengalaman politis selama ini.

Sudah dapat dibayangkan pertarungan seketat apa yang bakal terjadi dalam memperebutkan alokasi 25 kursi yang tersedia. Artinya  1 caleg harus mampu “mengalahkan” 20 orang caleg lainnya dalam mengumpulkan jumlah suara, agar mencapai kuota yang ditetapkan, padahal ada 500 caleg yang akan memperebutkan sekitar 120.000 pemilih di Mimika.

Bila kita menghitung secara matematis, dimana jumlah caleg dibagi dengan jumlah pemilih maka 1 caleg hanya memperoleh  240 suara, suatu jumlah yang jauh dari kuota yang ditetapkan untuk menempat kursi DPRD Mimika, sehingga untuk mendapat 1 kursi dibutuhkan suatu upaya yang optimal. Politik memang bukan matematis, tapi didalam politik harus tetap ada perhitungan.

Disamping itu tidak dapat disangkal bahwa lebih dari 85 % caleg di Timika adalah “new cammers” pertarungan politik, karena  sebagian caleg tersebut bukan berasal hasil kaderisasi partai politik atau underbouwnya dan telah berbakti selama kurun waktu tertentu, kemudian diusulkan sebagai caleg, berdasarkan pertimbangan – pertimbangan tertentu  dari partai politik.

Perekrutan Caleg di Timika  yang terkesan cara tergesa-gesa  – jika tidak ingin dikatakan  instan – sebagai Caleg untuk “kejar tanyang” dalam pemilu mendatang

Tindakan parpol main rekrut caleg secara instan tanpa melalui proses kaderisasi parpol  dan sering mengabaikan mekanisme internal untuk memilih dan mempersiapkan para kadernya sebagai calon anggota legislatif, menjadi indikasi nyata bahwa parpol tidak pernah memiliki spirit positif untuk membangun sistem rekrutmendan kaderisasi  yang baik. Hubungan antara parpol dengan kader lalu terabaikan, jika sudah begini maka para konstituen pada akhirnya selalu  terpinggirkan alias hanya sebagai pelengkap penderita. Konstituen hanya dibutuhkan Partai, bila ada pemilu telah tiba.

Apabila kita ibaratkan para caleg di Timika dengan tentara yang akan maju ke medan perang. Maka mereka merupakan “tentara” yang hanya maju  dengan modal nekat  dan “seragam”, tanpa dibekali dengan  “senjata”, “strategi”, dan dukungan “rakyat” untuk memenangkan “peperangan” yang akan terjadi, kondisi ini semakin dilengkapi dengan  pengalaman minim.

Jika yang diandalkan para caleg oleh adalah latar belakang pendidikan, maka siapapun tidak akan meragukannya,  karena para caleg telah membekali diri dengan segudang ilmu pengetahuan hingga ke jenjang Perguruan Tinggi / universitas. Yang jadi masalahnya adalah bagaimana mengapresiasikan Ilmu tersebut dalam percaturan politik lokal Timika. Itulah politik praktis.

Kondisi seperti ini jelas akan menguntungkan “mantan”  anggota legislatif yang saat ini “turun gunung” kembali untuk bertarung merebut kursi DPRD Mimika periode 2009 – 2014, karena mereka mempunyai seragam, senjata, strategi dan pengalaman dari pemilu sebelumnya. Bahkan mungkin mempunyai jurus – jurus  khusus untuk itu.

Anggota Dewan saat ini tidak mungkin akan menyodorkan begitu saja kursi DPRD kepada caleg yang baru. Mereka akan berusaha dengan segenap kemampuan yang ada untuk mempertahankan kursi tersebut pada periode ini, walaupun alasannya sangat klise : “masyarakat masih membutuhkan saya”

Disinilah peranan Parpol diharapkan mampu mensinergikan para caleg, kader dan Anggota partai sebagai suatu tim yang solid untuk meraih sebanyak mungkin suara, pada pemilu mendatang, agar calegnya dapat lolos menjadi anggota dewan.

Parpol

Hal pertama yang perlu dilakukan oleh Partai politik (parpol) saat ini adalah : membuka ruang bagi masyarakat untuk mengetahui susunan daftar calon anggota legislatif (caleg) sementara lewat Koran atau melalui acara – acara sosil dari partai yang di design khusus untuk maksud tersebut dengan melibatkan masyarakat, dengan demikian masyarakat dapat  “menilai” kredibilitas dan kapabilitas seorang caleg  yang di sodorkan oleh parpol, apakah layak mendapat bintang atau tidak ? berdasarkan  jajak rekam masyarakat selama ini.

Parpol juga tidak perlu merasa haram atau geram, manakala ada kritik dari masyarakat tentang caleg yang telah diusungnya, sehingga dapat meracik strategi yang tepat

Parpol juga harus membuat pernyataan yang ditanda-tangani oleh ketua partai bahwa  kebijakan parpol adalah menggunakan suara terbanyak atau nomor urut, agar para calegnya mempunyai suatu kepastian.

Daftar caleg yang sudah diputuskan lewat rapat pleno menjadi daftar calon sementara, yang diserahkan kepada KPU atau KPUD, serta tidak dapat diubah-ubah penomorannya secara sepihak oleh pengurus partai,

Apabila terjadi pergeseran daerah pemilihan bagi caleg yang lolos seleksi, maka parpol perlu menjelaskannya pada caleg yang bersangkutan. Pergantian caleg pun harus dilakukan secara proporsional. Artinya, jika setelah diverifikasi oleh KPU dan mendapat kritik serta saran masyarakat adalah caleg perempuan, maka penggantinya juga harus perempuan. Demikian pula jika yang harus diganti laki-laki, maka penggantinya harus laki-laki yang diambil dari nama caleg dengan nomor urut di bawahnya.

Sebelum memasuki masa kampanye, suasana kondusif internal Parpol sedapat mungkin terus dijaga. Artinya, bila ada   perselisihan atau konfik  internal dalam partai, maka penyelesaian perselisihan atau konflik kepartaian Mekanisme penyelesaian perselisihan internal parpol bisa dilakukan dengan tiga cara yakni rekonsiliasi, mediasi dan arbitrase.

Caleg.

Para caleg sebaiknya memahami visi dan misi parpol yang diwakilinya sebelum maju dalam perebutan kursi dewan, sehingga ketika terpilih sebagai Anggota Dewan dapat terus memperjuangkan apa yang menjadi visi dan misi partai.

Disamping itu para caleg dituntut untuk memberikan dukungan penuh terhadap seluruh aktifitas parpol dalam penggalangan masa

Tidak ada salahnya, bila para caleg mberusaha memperkenalkan diri di lingkungan dimana ia berada atau pada wilayah pemilihan yang akan diwakilinya, melalui kegiata – kegiatan sosial, sehingga masyarakat mengetahui kehadirannya dilingkungan tersebut, sehingga tidak menjadi asing lagi

Juga aktif memperkenalkan program – program yang akan diperjuangkan jika kelak terpilih sebagai anggota Legislatif

Para caleg juga dapat membentuk semacam “tim kecil” yang bekerja langsung dibawah koordinasinya untuk membentuk image dalam masyarakat dan menjaring sebanyak mungkin calon pemilih

Rakyat

Saling adu strategi diantara para caleg dengan dukungan Parpol dalam memenangkan kursi di dewan adalah sah-sah saja, tapi ingat : “yang paling akhir menentukan seorang caleg  pantas masuk sebagai wakil rakyat di Dewan adalah suara rakyat yang diamanatkan melalui Pemilu”.

Dan rakyat di Timika seperti rakyat  Indonesia umumnya, sudah bosan dengan janji-janji muluk caleg ketika  menghadapi  Pemilu. Begitu jadi anggota Dewan, selalu menggunakan mobil kaca gelap sehingga masyarakat tidak dapat melihat sang Dewan yang mewakilinya

Masyarakat juga sudah tidak untuk mudah dirayu dengan sembako, minyak tanah, supermi atau Rp 50.000 dalam strategi “serangan fajar”, yang selalu dimainkan  pemilu tiba.

Penulis, adalah Koordinator Kompartemen Pendidikan & Politik LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Kabupaten Mimika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: