PLN Ranting Timika :“Menebar Gelap Menuai Protes”


PLN Ranting Timika :

“Menebar Gelap Menuai Protes”

 

Oleh Fredrik Wakum

fred4Seorang Mama nampak bergegas memasuki kantor PLN Timika, tergopo-gopo ia  segera  menghampiri loket pembayaran. Maklum tanggal tersebut adalah tanggal 20 yang jadi tanggal “keramat” bagi konsumen listrik, karena merupakan batas akhir pembayaran, sehingga sejak pagi banyak masyarakat yang telah antre. Ketika tiba giliran si Mama, dari dalam loket keluar suara merdu menyapa :

”Mama, mo bayar listrik kah ?”

”Iyo…anak, Mama mo bayar listrik sebab su tanggal 20. Kalo tara bayar, nanti PLN dong kase putus Mama pu listrik dirumah. Anak, mama bayar berapakah ?”

Setelah memeriksa  rekening pembayaran sebentar,  dengan gesit si kasir  kemudian menyodorkan sehelai kwitansi :  ”Bulan ini Mama bayar 100.000 Rupiah..”

Si Mama menerima kwitansi tersebut, kemudian mengembalikannya lagi ke kasir dengan membungkus beberapa lembar uang pembayaran listrik didalamnya, tapi si kasir sangat terkejut.

”Mama…uang yang mama bayar ini Cuma 70.000 rupiah saja, masih kurang 30.000 rupiah lagi”

”Ah itu su pas Nona, sebab yang 30.000 rupiah itu Mama pake untuk BELI  LILIN kalo Listrik mati”

Cerita lucu atau MOP (Mati ketawa Orang Papua ?) berjudul ”Beli Lilin” diatas, merupakan ungkapan kekecewaan dan sekaligus pelecehan masyarakat terhadap kini kerja dan layanan PLN Timika yang setiap malam selalu ”menggilir” masyarakat dengan  atraksi ”mati lampu” – seperti judul salah satu lagu dangdut – sehingga  seorang teman penulis pernah berselaroh : ”Saya berani bertaruh. Jika dalam jangka waktu sebulan saja, lampu di kota Timika menyala terus, maka itu adalah prestasi luar biasa dan sangat – sangat spektakuler  yang pernah dicapai PLN Ranting Timika. Kepala PLN perlu diberikan suatu award khusus”.

Lain lagi di tempat tinggal (kost) penulis. Kalau kost sebelahnya mati, maka para tetangga ramai – ramai berani memastikan bahwa besok atau dalam hitungan beberapa jam lagi akan kena giliran mati lampu berikutnya dan itu bukan ramalan, karena memang terbukti.

Hak dan Kewajiban.

Ironis memang, PLN begitu tegas dan tak mengenal kompromi ketika menuntut  haknya. Masyarakat harus selalu tepat waktu bayar listrik pada tanggal 20 tiap bulan, jika tidak membayar atau terlambat melaksanakan kewajiban pada tanggal tersebut, jangan harap listrik dirumah anda masih menyala, karena PLN akan segera mengadakan aksi PHL ( Pemutusan Hubungan Listrik). Hal ini dapat dilihat dari PLN yang begitu rajin memasang iklan di harian ini untuk mengingatkan masyarakat dengan ”tanggal sakral” tersebut, agar selalu melaksanakan kewajibannya untuk membayar listrik tepat pada tanggal yang telah ditentukan

Giliran masyarakat menuntut pertanggung-jawaban PLN, agar listrik terus menyala. PLN akan ketar – ketir  mengajukan berbagai macam dalih, argumentasi dan teori untuk membenarkan  ketidak mampuannya. Salah satu alasan yang paling favorit ”dinyanyikan” PLN ranting Timika adalah mengenai peralatannya sudah usur alias tua. Juga mengenai masalah penunggakan pembayaran listrik dan pencurian listrik selalu, dijadikan alasan utama ketidak-optimalan beroperasinya PLN Timika.

Idealnya, jika masyarakat  melaksanakan haknya membayar listrik setiap bulan sesuai keinginan PLN, maka PLN juga harus melaksanakan kewajibannya memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat, take and give. Bukan take and forgated.

Kecewa

Bisa dipahami akumulasi kekecewaan masyarakat Timika yang kini terus berkembang ibarat ”Bola Es”, yang dari waktu ke waktu terus bergelinding semakin membesar. Saat ini kekecewaan masyarakat Mimika sudah mulai menunjukkan letupan disana-sini dalam merespons kini kerja  dan layanan PLN Ranting Timika.

Lihat saja bebeberapa waktu belakangan ini, harian Radar Timika telah dua kali mengkritisi persoalan listrik di Mimika melalui kolom opini. Juga muncul reaksi dari  anggota DPRD Mimika yang telah ikut mengomnetari masalah ini dan Praktisi Hukum yang akan menempuh jalur hukum untuk menggugat PLN ranting Mimika.

Konsumen listrik di Timika memang pantas kecewa, karena banyak perangkat – perangkat eletronik mereka yang  rusak gara – gara listrik yang ”byar pet” serta  tegangan listrik yang tidak stabil. Bahkan pada beberapa kasus kebakaran di Timika ditenggarai penyebabnya adalah listrik yang padam, sehingga penghuni rumah ”terpaksa” mennyalakan lilin sebagai penerangan, yang akhirnya ”menyalakan” beberapa rumah sekaligus..

Juga hal lain yang ikut memicu kekecewaan masyarakat Mimika adalah ketika akan meminta penyambungan baru. PLN selalu saja berkutat pada alasan klasik bahwa daya listrik yang tidak mencukupi, sehingga belum dapat mengadakan penyambungan baru. Tapi masyarakat Mimika akan kembali dibuat terpesona kita melihat PLN begitu antusias mengadakan penyambungan listrik bagi RUKO yang baru dibangun. Masyarakat lantas bertanya – tanya dalam hati , ”apa gerangan semua ini ?”

Hal ini semakin memperkuat sinyalemen dan keyakinan  masyarakat  bahwa PLN akan selalu ”main harga” disaat konsumen minta penyambungan baru listrik ke rumah mereka.atau dengan kata lain PLN selalu ’mengabdi” bagi mereka yang sanggup membayar lebih mahal.  Suatu bukti mentalitas yang tidak terpuji.

Kekecewaan masyarakat terhadap kini kerja PLN bukan terjadi di Timika Papua saja, jika pembaca berkesempatan  buka internet dan masuk ke http://www.goggle.com dan ketik :”PLN” kemudian search, maka 95% hasil pencaharian yang ditampilkan pada search engine tersebut akan berisi berbagai kekecewaan, cercaan hingga umpatan, kepada PLN  yang selalu ”menebar kegelapan” Hal ini mengindikasikan kepada kita bahwa sudah sedemikian kronisnya penyakit yang sedang diderita PLN saat ini.

Padahal PLN sebagai satu – satunya BUMN yang memegang Monopoli Listrik di republik ini dan  juga paling teratur menerima subsidi pemerintah, sudah sepantasnya menunjukkan kini kerja yang optimal dan profesional  dalam memberikan layanan kepada konsumen.

Meresahkan

Kembali pada kekecewaan konsumen terhadap layanan listrik di Timika  saat ini telah terakumulasi dan memasuki tahap meresahkan dan selalu menjadi pembicaraan hangat antar warga Timika, maka : Pertama, DPRD dan Pemerintah Daerah Mimika perlu sekali lagi mengadakan pertemuan  (kedua) dengan  PLN yang melibatkan Ormas, LSM dan tokoh Masyarakat  untuk mendengar akar permasalahan yang dialami PLN Ranting Timika, walaupun akan keluar lagi alasan klasik seperti : peralatan yang tua, tunggakan pembayaran, pencurian listrik dan  tidak ada dana beli peralatan.

Kedua, melihat konsumsi listrik masyarakat Mimika yang semakin meningkat dari tahun ke tahun dibandingkan  dengan pasokan layanan PLN ranting Timika yang tidak pernah menunjukkan peningkatan (baca : lamban), maka sudah saatnya DPRD dan Pemda Kabupaten Mimika perlu untuk mengevaluasi kembali status monopoli PLN ranting Mimika. Apakah PLN masih relevan sebagai satu – satunya perusahaan penyuplai listrik (baca : monopoli) di Timika atau perlu memikirkan kemungkinan alternatif lain, seperti menjadikan pihak swasta sebagai mitra PLN ranting Timika.

Ketiga,  bagi konsumen – warga masyarakat yang telah mengalami kerugian dengan adanya pemadaman  lampu tersebut  dapat bersama – sama mengadakan upaya hukum untuk menggugat.

Kita semua tidak ingin PLN ranting Timika terus menerus menebar kegelapan di penjuru Kota Timika, karena lama – kelamaan  dapat menuai protes warga. Semoga !

Penulis, adalah Ketua Kompartemen Pendidikan & Politik LIRA ( Lumbung Informasi Rakyat) Kabupaten Mimika

8 Tanggapan

  1. tulisannya sangat bagus, hormat Tuan.

    GBU

    • Bung Octo, Terima kasih, jika tulisannya bermanfaat. Salam

  2. itu memang perlu di evaluasi dan diselidiki langsung ke lapangan apakah alasan2 yang mereka lontarkan kepada DPRD dan pihak2 yang turut ambil bagian ini betul atau tidak…dan jangan sampai masyarakat di timika tidak percaya lagi dengan PLN karena seringnya pemutusan2 aliran listrik…jangan kecewakan warga yang sudah tepat waktu membayar tagihan2 tiap bulannya….
    kasihan warga, aktivitasnya jadi terganggu dengan seringnya pemutusan listrik yang bergiliran seperti ini…

    • Betul Kawan Ronald, yang mesti dilakukan oleh masyarakat Timika adalah Mendorong DPRD Timika yang baru untuk membuat sebuah segera membentuk TIMSUS LISTRIK MIMIKA, untuk mengkaji : Mengapa Listrik sering mati ? dengan segala keterkaitannya juga perlu mengkaji “kemampuan” PLN ranting Timika dalam melayani masyarakat Mimika, jika tidak mampu maka tidak ada salahnya TIMSUS LISTRIK MIMIKA mengusulkan ke Bupati untuk segera membuat PERDA yang memungkinkan swasta ikut berperan dalam pelayanan listrik di Timika.
      Salam
      Fred

  3. masalah pemadaman listrik di Timika adalah suatu hal yang sebenarnya tidak harus terjadi di kota Timika masalah pemadaman listrik tersebut terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama hal pemadaman listrik dengan rentang waktu yang sangat lama bahkan sampai hampir tengah hari penuh ini sangat merugikan warga masyarakat yang selalu membayar rekening listrik ke PLN ranting Timika. Untuk mengatasi hal ini DPRD atau Pemda harus menyelidiki tentang sebab- akibatnya di PLN Timika,

    • Mudah-mudahan DPRD Mimika yang akan datang dapat didorong untuk membentuk PANSUS LISTRIK MIMIKA sebagai program yang pertama

  4. Salam kenal, sy jg sependapat dg tulisan bung fred yg mana sdh menyamai dg rekor “byar-pet” PLN di Teminabuan…mungkin jg di Teminabuan bahkan lebih parah. Dari isu masy brkembang bahwa justru subsidi pemerintah tdk diberikan kpd PLN dg ditukar pembelian mobil dinas yg kalo di jawa mobil tsb sering2 ngendon di garasi (baca L200, Trithon, Ford Ranger)… Skrg akan lbh sulit lg penyelesaiannya yg justru melibatkan pemerintah??? Alhasil tradisi di mimika draw dg Teminabuan yaitu “byar-pet, byar-pet 1000x” maka dari itu layak sudah disebut Kabupaten 76 (baca “nyala jam 7 mati jam 6”).

    • Setuju bung…. Para Intelektual Papua berlomba-lomba bikin Kabupaten baru tapi Tidak Pikir Listrik. Salam untuk kawan-kawan di Teminabuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: