AWAS, KRISIS MONETER JILID II



AWAS, KRISIS MONETER JILID II

Oleh : Fredrik Wakum

Masih ingat dengan krismon ? penulis yakin masyarakat Indonesia masih akrab dengan kosa kata tersebut, karena merupakan kependekan dari Krisis Moneter, suatu krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia beberapa tahun lalu dan telah memporak – porandakan sendi – sendi perekonomian Indonesia laksana Tsunami.

Rakyat jelata hingga para Taipan (pengusaha besar) telah merasakan apa yang diakibatkan oleh badai krismon tersebut, banyak terjadi PHK, pengangguran merajalela, OMB (Orang Miskin Baru) meningkat dengan pesat, banyak usaha yang bangkrut dan para taipanpun limbung, sehingga utang mereka ditanggung negara. BLBI (Bantuan Likwiditas Bank Indonesia) adalah satu contoh nyata

Dalam dua bulan terakhir ini, jika kita mengamati topik-topik pembicaraan di TV Swasta dan TVRI maupun Headline media-masa nasional, maka pokok pembicaraan ekonomi nasional Indonesia sedang diarahkan pada bagaimana mempersiapkan bangsa ini menghadapi “badai” Krismon jilid II yang datang lewat Amerika.

Artinya, bahwa saat ini sebuah “ancaman serius” (baca : Krisis Ekonomi) sedang menuju ke Indonesia, sehingga pemerintah Indonesia sangat serius menghadapainya.

Celakanya, pembicaraan mengenai “ancaman serius” hanya menjadi komoditas terbatas para elit Ekonomi dan elit politik Indonesia di Jakarta, sementara rakyat dibiarkan terperangkap dan terlena dalam ketidak-tuhuan tentang bahaya macam apa yang sedang menhampiri.

Krismon Jilid I

Apabila sejenak kita flashback atau menengok kembali kebelakang, maka Krisis Moneter Indonesia jilid I disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand “Bath” terhadap Dollar US. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. Devaluasi mendadak dari “Bath” ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini.

Indonesia, yang mengikuti sistim mengambang terkendali, pada awalnya bertahan dengan memperluas “band” pengendalian/intervensi, namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim “band” tersebut. Rupiah langsung terdevaluasi. Dalam bulan September/Oktober 1997, Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun, Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%, diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini, ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. Di tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13,7% dari pertumbuhan sebesar +4,9% di tahun sebelumnya (1997). Atau jatuh dengan 18,6% dalam setahun.

Sampai sekarang, sudah lima tahun, pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis.

Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moody’s menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi “junk bond”.

Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus, krisis ini menguat pada November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah, dan banyak yang bereaksi dengan membeli dolar, yaitu: menjual rupiah, menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi ke titik terendah

Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di Indonesia. Pada Februari 1998, Presiden Suharto memecat Gubernur Bank Indonesiaa, tapi ini tidak cukup. Suharto sendiri malah dipaksa mundur oleh mahasiswa dan rakyat pada pertengahan 1999 dan B.J. Habibie menjadi presiden

Padahal beberapa bulan sebelum terjadinya krisis moneter 1997, seluruh dunia termasuk Bank Dunia dan IMF memuji-muji prestasi ekonomi Asia Timur, termasuk Indonesia. Bahkan ekonomi negeri ini disebut-sebut secara fundamental sehat dan kuat. Indonesia pun dijuluki sebagai “Macan Baru Asia” karena kemajuan pesatnya di bidang ekonomi.

Namun ternyata, semua prestasi yang dibanggakan itu seperti tak ada artinya tatkala nilai tukar Rupiah, Ringgit, Bath, dll, terhadap Dolar AS jatuh terjerembab di bursa valas internasional. Efek dari jatuhnya mata uang negara-negara Asia Tenggara ini sangat luar biasa. Seperti kartu domino, mula-mula hanya berpengaruh terhadap sejumlah produk impor, tetapi kemudian menjalar ke berbagai sektor, ribuan perusahaan di Indonesia bangkrut sehingga menganggurkan puluhan juta tenaga kerja, harga-harga produk local melambung tinggi sehingga jumlah rakyat miskin meningkat tajam, dan pemerintah Indonesia kini terbebani hutang sebesar 1500 trilyun rupiah.

Bahkan saat ini menurut Data Depkeu menunjukkan, jumlah total utang luar negeri pemerintah per 31 Agustus 2008 mencapai 63,17 miliar dollar AS. (KOMPAS – Jumat, 26 September 2008)

Rinciannya adalah utang ke Australia senilai 911 juta dollar AS, Austria 1,793 miliar dollar AS, Belgia 319 juta dollar AS, Kanada 388 juta dollar AS, Denmark 86 juta dollar AS, dan Finlandia 16 juta dollar AS. Adapun utang ke Perancis mencapai 2,756 miliar dollar AS, Jerman Rp 3,952 miliar dollar AS, Italia 125 juta dollar AS, Jepang 25,527 miliar dollar AS, Belanda 2,229 miliar dollar AS, Norwegia 104 juta dollar AS, Spanyol 553 juta dollar AS, dan Swedia 39 juta dollar AS.

Sementara utang ke Swiss mencapai 400 juta dollar AS, Inggris 1,563 miliar dollar AS, dan Amerika Serikat sebesar 2,608 miliar dollar AS.

Untang Luar Negri ini, masih merupakan “warisan” akibat krisis moneter jilid I yang dialami oleh Indonesia tahun 1977 lalu. Dapat dibayangkan bagaimana utang luar negri Indonesia yang akan membengkak jika Negara ini diterpa Krisis Moneter nanti.

Krismon Jilid II

Setelah 11 tahun berlalu dan puing – puing krisis Moneter tahun 1997 masih menyisahkan puing – puing berserakan, kini tiba – tiba krisis Moneter tahap ke II telah menhadang didepan mata, siap menghantam dan meluluh-lantakkan perekenomian Indonesia lagi.

Cikal bakal Krisis Moneter yang akan melanda Wilayah Asis (terutama Indonesia) dan belahan wilayah dunia lainnya dalam beberapa waktu kedepan ini diawali dengan Runtuhnya Lehman Brothers di AS.

Runtuhnya Lehman Brothers jelas tidak main-main, karena salah satu dari empat perusahaan keuangan terbesar di AS. Lehman Brothers adalah perusahaan keuangan yang bergerak dalam penyediaan jasa investasi, yang operasinya dilakukan melalui tiga segmen pasar: bank investasi, pasar modal, dan jasa konsultasi. Ketiganya beroperasi melalui 15 perwakilan yang tersebar di AS, Tokyo, Amerika Utara, Eropa, dan Asia Pasifik.

Pada penutupan Jumat pekan Oktober lalu, saham bank yang sudah 158 tahun beroperasi tersebut jatuh ke tingkat 2,65 dolar AS, turun hampir 95% dalam 52 minggu terakhir yang mencapai 67, 73 dolar AS. Setelah mengalami kerugian sekitar 300 miliar dolar karena krisis subprime mortgage, menyatakan merugi sekitar 4 miliar dolar AS, karena anjloknya aset-aset komersialnya di bidang realestat.

Pada awal 2000-an, pemerintah Amerika menurunkan suku bunga hingga 1%. Dengan bunga yang sangat rendah itu, bagi siapa pun menjadi mudah dan murah untuk meminjam uang untuk keperluan apa saja, termasuk membeli rumah. Setelah penurunan bunga itu, Amerika mengalami booming properti. Harga rumah naik lantaran melonjaknya jumlah orang yang ingin membeli rumah.

Parahnya lagi, syarat untuk membeli rumah dengan mortgage (semacam KPR-nya Indonesia) begitu mudah. Sampai-sampai banyak yang membeli rumah dengan deposit $0. Akhirnya, orang-orang yang sebetulnya tidak memenuhi kualifikasi untuk bisa mendapat kredit, bisa dengan mudah mendapatkannya. Inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai subprime mortgage alias KPR rendah mutu (karena besar risikonya)..

Beberapa tahun setelah itu, suku bunga naik. Masalah mulai muncul. Orang yang selama ini membeli rumah hanya untuk spekulasi (beli untuk dijual kembali dengan harga yang lebih mahal) mulai menyadari bahwa harga rumahnya tidak sesuai dengan cicilan kredit rumah yang disetornya ke bank. Orang yang benar-benar membeli rumah untuk ditinggali, tidak mampu membayar cicilan yang mahal. Akhirnya terjadi kredit macet.

Krisis kredit dan komoditas global kembali mencuatkan perdebatan tentang, mengapa penggelembungan (spekulasi) dibiarkan terus tumbuh pada proporsi yang tanpa pijakan, dan mengapa fenomena ledakan dan kebangkrutan menjadi sering terjadi di Barat. Ledakan dan kebangkrutan atau siklus ekonomi digolongkan sebagai bagian dari kehidupan abad-21. Bagaimanapun, pengaruh dari ledakan, kolaps, dan pengembalian sejauh ini telah jauh menjangkau beragam konsekuensi, dan seperti sebelumnya, penderitaan dirasakan secara massal.

Penyebab siklus ledakan dan kebangkrutan, serta segala konsekuensinya, merupakan buah langsung dari upaya ideal kapitalisme dalam membuat pencapaian ekonomi, yakni pertumbuhan ekonomi tanpa henti. Ekonomi kapitalisme memang mendasarkan pada produksi dan konsumen membeli barang hasil produksi.

Krisis yang tengah terjadi, saat ini, jelas menunjukkan hal tersebut, karena investor dan konsumen terus-menerus dibombardir dengan informasi tentang, apa yang harus dibeli. Seperti halnya Inggris, AS mengalami pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh ekspansi utang pribadi dan pada akhirnya digantikan oleh tingginya harga realestat.

Karena biaya perumahan meningkat, pemilik rumah perlahan-lahan meningkatkan utang pribadinya, dengan menawarkan rumah mereka sebagai jaminan. Proses menggadaikan rumah untuk membiayai gaya hidup tinggi telah menjadi fenomena umum dan yang lazim ditemukan di AS. Selama harga rumah terus meningkat, konsumen dapat mengajukan pinjaman lebih tinggi dari nilai jual rumah mereka. Praktik ini marak terjadi sejak dekade 1990-an, dan kini pun situasi yang sama terjadi, di mana harga rumah sangat tinggi melampaui pendapatan hingga berkali-kali lipat. Situasi mencapai ambang bahaya di mana utang harus dibayar, sementara harga rumah terlalu mahal untuk dibeli oleh rakyat.

Sebenarnya, harga rumah meningkat bukan karena tingginya permintaan, melainkan spekulasi. Para spekulan mencari laba dengan membeli rumah, menimbunnya, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi. Proses spekulasi macam ini disokong oleh kepercayaan diri para spekulan bahwa harga rumah akan terus meningkat. Puncak dari masalah ini adalah mereka meminjam uang untuk mendanai spekulasi. Suatu bentuk keserakahan.

Mengingat kepercayaan ditempatkan sebagai basis ledakan ekonomi yang sedang dialami Barat, tidak heran apabila mereka menjadi subjek ketidakpastian. Inilah yang terjadi pada Agustus 2007, saat kepanikan melanda pasar finansial. Kemudian, dampaknya dirasakan dunia yang menyandarkan perekonomiannya pada AS.

Dampak

Dampak krisis keuangan Amerika Serikat akibat kebangkrutan Lehman Brothers dan Merrill Lynch & Co Inc, yang dapat di amati dan dicatat sebagai akibat gejolak perekonomian di AS adalah :

•Indeks harga saham anjlok pada penutupan hari Senin (15/9). Saham blue chip Dow Jones Industrial Average jatuh di bawah 11.000 atau anjlok 4.42% ke level 10.917,51 (kejatuhan harga saham terbesar setelah serangan teroris pada September 2001). Indeks gabungan Nasdaq terjerembab ke 3,60% ke level 2.179,91, dan indeks Standard & Poor’s 500 jatuh 4,71% ke level 1.192,70.
•Indeks FTSE London merosot 3,92% ke level 5.204,20. Di Paris, CAC 40 anjlok 3,78% ke level 4.168,97, dan di Frankfurt DAX dilepas 2,74% di level 6.064,16 poin.
•Royal Bank of Scotland kehilangan 10 persen dan Barclays turun 9,84%. Di Kanada, S&P/TSX indeks meluncur 4.04% sedangkan indeks Bovespa Brasil, Amerika Selatan, tergelincir paling besar, yakni 7,59%.
•Pasar Tokyo dan Hong Kong saham-sahamnya jatuh dengan tajam, Sydney jatuh 1,8 persen dan Singapura dilepas 3,27 persen.
•Di Indonesia krisis ini berpotensi menurunkan daya beli, yang juga dapat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia, di mana AS merupakan pangsa pasar ekspor kedua setelah Jepang dengan proporsi sebanyak 11% sampai saat ini.
•Laporan ekonomi BNI Securities menyebut para praktisi industri memperkirakan penjualan barang-barang seperti tekstil dan sepatu yang mendominasi pangsa ekspor ke AS sudah turun sekitar 15-20% di bulan Agustus.

Beberapa data tersebut cukup memberikan informasi kepada kita bawah dampak yang disebabkan oleh kebangkrutan Lehman Brothers dan Merrill Lynch & Co Inc, berdampak luas ke berbagai belahan dunia lainnya, walaupun pemerintah Bush kemungkinan akan menggelontorkan dana hingga US$ 500 miliar sebagai upaya penyelamatan

.

10 Langkah SBY

Oleh sebab itu Presiden SBY sangat serius dalam mengantisipasi badai Krismon tahap II. Keseriusan terlihat dengan jelas ketika dalam Sidang Kabinet Paripurna Senin 06 October 2008 lalu, yang dihadiri seluruh menteri kabinet Indonesia Bersatu, pengusaha dan pemimpin media massa nasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara tegas memerintahkan 10 langkah yang harus ditempuh untuk menghadapi krisis keuangan Amerika Serikat agar tak memberikan pengaruh buruk terhadap perekonomian Indonesia, antara lain :

Pertama, Presiden meminta agar dalam menghadapi krisis global, semua stakeholder harus terus memupuk rasa optimisme dan saling bekerjasama sehingga bisa tetap menjagar kepercayaan masyarakat.

Kedua, pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen harus terus dipertahankan antara lain dengan terus mencari peluang ekspor dan investasi serta mengembangkan perekonomian domestik.

Ketiga, mengoptimalkan APBN 2009 untuk terus memacu pertumbuhan dengan tetap memperhatikan ‘social safety net’ dengan sejumlah hal yang harus diperhatikan yaitu infrastruktur, alokasi penanganan kemiskinan, ketersediaan listrik serta pangan dan BBM, tegasnya, juga harus dilakukannya efisiensi penggunaan anggaran APBN maupun APBD khususnya untuk peruntukan konsumtif.

Keempat, diperintahkan pada kalangan dunia usaha untuk tetap mendorong sektor riil dapat bergerak dengan dorongan Bank Indonesia dan perbankan nasional harus membangun sistem agar kredit bisa mendorong sektor riil, Di samping itu, menurutnya, pemerintah akan menjalankan kewajibannya untuk memberikan insentif dan kemudahan secara proporsional.

Kelima, yang diperintahkan Presiden yaitu semua pihak agar lebih kreatif menangkap peluang di masa krisis antara lain dengan mengembangkan pasar di negara-negara tetangga di kawasan Asia yang tidak secara langsung terkena pengaruh krisis keuangan AS.

Keenam, menggalakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga pasar domestik akan bertambah kuat.

Ketujuh, memperkuat kerjasama lintas sektor antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia perbankan serta sektor swasta, sehingga menimbulkan kepercayaan masyarakat

Kedelapan, Presiden juga mengajak semua kalangan untuk menghindari sikap ego-sentris dan memandang remeh masalah – business as usual – yang dihadapi. Menurutnya, dalam menghadapi permasalahan semua pihak memiliki porsi masing-masing untuk bersama-sama menyelesaikan masalah. Kesemuanya harus bekerja sama dan tidak boleh saling mengandalkan.

Kesembilan, Kepala Negara mengingatkan 2009 merupakan tahun politik dan tahun pemilu, kaitannya dengan upaya menghadapi krisis keuangan AS adalah memiliki pandangan politik yang non partisan serta mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan maupun pribadi termasuk dalam kebijakan-kebijakan politik.

Hal yang terakhir atau poin kesepuluh semua pihak diharapka melakukan komunikasi yang tepat dan baik pada masyarakat. Tak hanya pemerintah dan kalangan pengusaha serta perbankan, Kepala Negara juga memandang peran pers dalam hal ini sangat penting karena memiliki akses informasi pada masyarakat.

Langkah strategis pemerintah RI menghadapi hadapi krisis keuangan AS akan ditempuh dengan cara :

Pertama, pemerintah akan meminta lembaga kebijakan pengadaan barang dan jasa untuk segera menyelesaikan revisi Keputusan Presiden (Keppres) No 80 dalam setahun ke depan.

Kedua, perluasan jaring pengaman sosial (JPS) hingga tidak hanya mencakup bantuan langsung tunai (BLT) saja.

Ketiga, revitalisasi modal ventura sebagai alternatif menghadapi suku bunga yang terus tinggi.

Penutup

Jika diamati dengan seksama, akar yang menyebabkan kedua masalah ini benar-benar mirip dengan krisis moneter di Asia 11 tahun silam yang dipicu oleh anjloknya mata uang Thailand, baht dan sekarang yang dipicu oleh perusahaan keuangan yang bergerak dalam penyediaan jasa investasi di AS, Lehman Brothers.

Sehingga tidak berkelebihan pernyataan yang disampaikan Gubernur Bank Sentral Thailand, Tarisa Watanagase disela-sela Asian Central Bankers di Bangkok, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (20/9/2008) yang mengatakan bahwa : “Investor mengambil risiko tinggi secara berlebihan, menciptakan nilai aset yang bubble dengan latar prinsip kehati-hatian dan kebijakan moneter yang kurang mendukung,” katanya

Asia dihantam krisis finansial terburuk pada tahun 1997 silam. Krisis yang menular ke berbagai wilayah Asia itu dipicu oleh spekulasi yang akhirnya menjatuhkan mata uang baht. Indonesia termasuk negara yang terkena krisis moneter terparah, bahkan harus mengundang IMF untuk mengadakan langkah menyelamatkan, meski belakangan diketahui IMF memberikan resep yang salah untuk Indonesia.

Kita berharap, semoga bahaya Krismon jilid II tidak sampai terjadi di Indonesia, sebab pemerintah telah mempunyai resep untuk mengatasinya dengan belajar pada krismon terdahulu. Kerena jika samapi terjadi, maka puluhan juta rakyat Indonesia akan jadi pengangguran dan jatuh dalam jurang kemiskinan. Jangan sampai…!

Penulis, adalah Koordinator Kompartemen Pendidikan & Politik LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Kabupaten Mimika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: