PERPUSTAKAAN UMUM TIMIKA, SEBUAH IMPIAN ?



PERPUSTAKAAN UMUM TIMIKA, SEBUAH IMPIAN ?

Oleh : Fredrik Wakum

Siapapun tidak akan menampik pepatah yang mengatakan bahwa : “Buku adalah sumber Ilmu Pengetahuan”. Wapres Yusuf Kala mengibaratkan buku sebagai guru yang tidak pernah penat, atau capai, dan tak pernah protes jika tidak dibaca. “Akan tetapi, di situlah kekuatan buku,” katanya, ketika meresmikan layanan Perpustakaan Nasional dan peluncuran Perpustakaan Elektronik Keliling di Gedung Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. (Kompas 02 Juni 2007)

Perpustakaan sering diibaratkan sebagai “gudang buku”, dengan sendirinya menganalogikan bahwa perpustakaan adalah “gudang Ilmu pengetahuan”, karena disana terkumpul berbagai buku dan informasi yang siap disantap untuk memenuhi keingin-tahuan kita.

Sebagai “gudang” pengetahuan dan pusat pembelajaran, Perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan masyarakat karena di dalamnya tersedia begitu banyak informasi yang dapat digunakan oleh masyarakat ketika mereka bermaksud ingin memiliki dan meningkatkan keterampilan yang dapat digunakan untuk memproduksi sesuatu yang bernilai ekonomi, dari produk yang sederhana sampai produk yang canggih.

Tidak hanya itu,perpustakaan juga sebenarnya menyediakan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, dari kesehatan keluarga sampai pada informasi tentang bagaimana memperluas pergaulan dalam masyarakat. Perpustakaan adalah ‘gudang ilmu’, bukan gudang buku seperti selama ini dipersepsikan orang pada umumnya.

Dengan kekayaan sumber ilmu pengetahuan yang dimilikinya, perpustakaan sebenarnya merupakan salah satu faktor pendukung utama bagi pemerintah ketika akan melaksanakan program pembangunan, baik fisik maupun mental karena melalui perpustakaan, informasi tentang kebijakan pembangunan dapat disebarluaskan pada masyarakat dengan cara yang lebih efektif dan dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat baik lapisan sosial, pendidikan, usia, suku bangsa, maupun lapisan ekonomi. Hal ini dapat terjadi karena di perpustakaan tidak ada pembedaan terhadap pengunjung. Semua orang dilayani sesuai dengan kebutuhannya, bukan statusnya.

Namun keinginan untuk dapat membaca buku atau mencari informasi dalam sebuah Perpustakaan Umum yang nyaman ditengah kota Timika dengan rak – rak yang ditaburi berbagai buku, skripsi, majalah, koran, CD (Compac Disk), dan terkoneksi ke Internet agar dapat mengakses berbagai informasi lainnya, untuk sementara ini harus dipendam dulu.

Memiliki keinginan seperti ini untuk saat ini mungkin hanya merupakan suatu impian yang muluk bagi masyarakat Timika, terutama mereka – mereka yang saat ini masih / sedang belajar di SD hingga Perguruan Tinggi (PT) dan masyarakat umum yang ingin memperoleh tambahan Ilmu pengetahuan dan Informasi yang bermutu

Pembangunan sarana – prasarana umum yang mencerdaskan seperti perpustakaan masih nongkrong dengan aman dalam “waiting list” pembangunan yang sedang digalakkan di Timika. Sementara kita selalu menutup mata pada suatu fakta, bahwa hampir 95 % sekolah (SD hingga PT ) yang berada diwilayah kabupaten Mimika belum mempunyai perpustakaan yang memadai. Bila ada sekolah yang dibangun lengkap dengan Perpustakaan, maka jumlahnya tidak melebihi jumlah jari tangan kita.

Dilain pihak kita selalu menginginkan para Pelajar, Mahasiswa maupun Generasi Muda didaerah ini untuk dapat berprestasi setinggi mungkin, bila perlu menjadi juara Olimpiade Fisika, juara merancang Robot tingkat dunia, sekaligus mengharumkan nama bangsa dan Negara teristimewa bumi Amungsa ini. Bagaimana mungkin mereka dapat berprestasi seperti yang kita harapan, jika tidak ada sarana yang menunjang ?

Sebagai kota yang sedang berkembang, salah satu sarana yang diharapkan dapat ikut berperan dalam pengembangan dan peningkatkan kwalitas SDM di Timika adalah Perpustakaan. Pemasalahannya kembali kepada diri kita : Perlukah dibangun sebuah perpustakaan umum di Timika ? Jika jawabannya perlu, maka pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang bertanggung jawab dalam pembangunan, perawatan, pengelolaannya, apakah Pemerintah Daerah Mimika, Lembaga Swasta ataukah kombinasi / kerjasama antara LSM dan PEMDA ? serta masih banyak lagi rentetan pertanyaan yang bakal susul – menyusul untuk saling melengkapi dalam mewujudkan impian bersama mengenai perputakaan umum di Timika

Anggapan keliru

Sangat disayangkan bahwa sampai saat ini masih terdapat anggapan keliru yang memandang perpustakaan sebagai suatu tempat yang membosankan dan tidak terawat, menyebabkan Perpustakaan di Indonesia mengalami perkembangan lebih lamban dibandingkan dengan perpustakaan di negara-negara di kawasan Asia Tenggara..

Hal ini semakin diperparah lagi dengan masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengenal manfaat perpustakaan, serta keengganan Pemerintah Daerah (PEMDA) untuk membangun perpustakaan Umum. Bahkan bagi sebagian masyarakat, perpustakaan itu dianggap hanya gudang buku (dalam arti sebenarnya) yang dijaga oleh orang-orang yang tidak mempunyai suatu keahlian. Karena pada waktu yang lalu banyak terjadi pegawai yang dipekerjakan di perpustakaan adalah “pegawai buangan” yang sudah tidak terpakai di unit-unit lain atau pegawai – pegawai yang sedang mendapat hukuman .

Padahal bila kita kaji jauh kebelakang, para Pustakawan pada zaman Mesir Kuno adalah orang – orang yang berpendidikan tinggi, demikian pula di Babylonia dan Assyria. Pada zaman Roma, perpustakaan umum diurus oleh tenaga yang bertindak atas nama kaisar. Pengurus perpustakaan umum zaman Roma disebut procurator bibibliothecarum (petugas perpustakaan), biasanya seorang ilmuwan (Sulistiyo Basuki :1993)

Oleh sebab itu anggapan – anggapan keliru mengenai suatu perpustakaan sudah saatnya untuk dihilangkan dari benak kita tentang persepsi suatu perpustakaan, apalagi dengan berkembangnya Teknologi Informasi (TI) dewasa ini pada berbagai bidang ilmu, telah merambah juga ke dunia keperpustakaanan (librarianship), sehingga perpustakaan tidak lagi ketinggalan dalam bidang informasi karena memanfaatkan kemajuan Tehnologi tersebut.

Banyak pekerjaan di perpustakaan saat ini sangat terbantu dengan adanya komputerisasi, seperti adanya perangkat lunak Database Management System untuk pengelolaan katalog koleksi perpustakaan, sekaligus menggunakan data tersebut untuk manajemen transaksi peminjaman dan pengembalian buku, juga pencarian informasi dalam suatu perpustakaan.

Sehingga International Federation of Library Association and Institutions mendefisikan perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media non-cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemakai.

Bahkan saat ini perpustakaan didefinisikan sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak.

Batasan tersebut sesuai dengan fakta saat ini. Perpustakaan tidak hanya berisi koleksi-koleksi buku-buku namun juga terdapat skripsi, tesis, koran, majalah, jurnal luar negeri dan dalam negeri, koran, peta, floppy disc, CD program, CD-ROM. dan memiliki fasilitas ruang workstations. Dimana pengguna perpustakaan dapat memanfaatkan komputer-komputer yang disediakan untuk akses internet dan pengerjaan tugas-tugas kuliah yang memerlukan komputer. Diruang ini pengguna dapat juga memanfaatkan komputer multimedia untuk keperluan belajar.

Bahkan banyak perpustakaan telah mulai melengkapi ruangannya dengan tempat ruangan khusus yang menyatu dengan gedung utama untuk keperluan bedah buku, diskusi , seminar dan pertemuan – pertemuan ilmiah lainnya.

Dengan adanya koleksi dan fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh Perpustakaan, diharapkan pengguna perpustakaan terutama Pelajar dan Mahasiswa merasa tertarik dan mau memanfaatkan pelayanan tersebut untuk menunjang studinya.

KK Library

Perpustakaan Kuala Kencana (KK Library) dan Perpustakaan Tembagapura (TPRA Library) memberikan contoh kepada kita bagaimana sebuah perpustakaan yang dikelola secara baik oleh tenaga – tenaga profesional dengan mengedepankan keramahan dalam pelayanan, serta memanfaatkan secara optimal Tehnologi Informasi, sehingga mengikis persepsi “menyeramkan” tentang sebuah perpustakaan yang “hanya” merupakan ruang /gudang untuk menumpuk buku – buku kuno yang berdebu dan merubahnya menjadi menyenangkan.

Aspek penataan ruangan yang nyaman menjadikan Perpustakaan Kuala Kencana & Tembagapura selalu menjadi tempat favorit bagi karyawan menghabiskan waktu istirahat sambil membaca buku, maupun sebagai tempat rekreasi bagi keluarga untuk mendekatkan anak mencintai buku, maupun tempat membaca dan meneliti bagi masyarakat umum. Juga kita dapat menyaksikan kegembiraan anak – anak yang sibuk mencari buku – buku bacaan sesuai keinginan mereka.

Memang patut diakui bahwa, dalam jumlah buku maupun luas ruangan / bangunan, kedua library tersebut masih “kalah” bila dibanding kan dengan perpustakaan diluar Papua, tapi untuk kategori Papua maupun Mimika, masih menjadi yang terbaik.

Fungsi

Milihat demikian pentingnya Perpustakaan umum bagi pemberdayaan dan kemajuan suatu bangsa, maka Badan Dunia melalui UNESCO mengeluarkan sebuah manifesto mengenai Perpustakaan Umum pada tahun 1972, yang menyatakan bahwa Perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utama, antara lain :

Pertama, memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.

Kedua, Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murahbagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.

Ketiga, Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka yang berkesinambungan.

Keempat, bertindak selaku agen kultural, artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya. Dengan demikian Perpustakaan umum bertugas menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, ceramah, pemutara film budaya dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikut sertaan, kegemaran dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni budaya.

Oleh sebab itu kehadiran perpustakaan ditengah masyarakat perlu diadakan bagi yang belum ada memiliki dan terus dipertahankan keberadaannya bagi yang telah memiliki perpustakaan, karena mempunyai fungsi yang berkalitan langsung dengan masyarakat (Sulistiyo Basuki :1993) antara lain :

(1). Sebagai sarana penyimpanan karya manusia, khususnya karya cetak (buku, skripsi,majalah dan sejenisnya), karya Rekaman ( kaset, piringan hitam dsb) dan saat ini mulai terisi dengan keping-keping Digital

(2). Fungsi Informasi, bagi pelajar, mahasiswa, masyarakat dan para peneliti yang ingin mengetahui sebuah topik, sehingga sekaligus juga sebagai tempat penelitian

(3). Fungsi Rekreasi sehingga masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan cara, membaca dan mengakses berbagai informasi yang
(4). Fungsi pendidikan, baik berupa pendidikan formal maupun nonformal, artinya perpustakaan merupakan tempat belajar diluar bangku sekolah maupun tempat belajar didalam lingkungan pendidikan sekolah, terutama bagi mereka yang sudah meninggalkan bangku sekolah cukup lama, maka perpustakaan merupakan tempat belajar yang praktis, berkesinambungan serta murah. Dan banyak tokoh besar dunia yang telah membuktikan hal ini, Misalnya Lenin yang saat pemberontakan pertamanya gagal ia kemudian melarikan diri ke Swiss dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk menuliskan buah pikirannya. Juga Karl Marx ( penulis buku Manifesto Komunis) yang menhabiskan waktunya di Bristish Library di London.

(5). Fungsi Kultural yaitu sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat

Disamping itu beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan untuk mendorong pembangunan Perpustakaan di Timika antara lain : (a). Pertumbuhan Sekolah maupun Pergurunan Tinggi yang terus bertambah dari tahun ke tahun, yang sudah tentu di iringi dengan bertambahnya jumlah pelajar dan Mahasiswa (b). Belum ada toko buku yang memadai dengan dan (c). Harga buku yang cenderung mahal disamping menumbuhkan minat baca dikalangan masyarakat

Mulai.

Melihat semua ini, maka sudah saatnya untuk mulai memikirkan, merencanakan dan mengupayakan untuk merealisasikan sebuah perpustakaan umum bagi masyarakat Timika yang terletak di daerah strategis di tengah kota, sehingga mudah dijangkau dari berbagai penjuru .

Dengan demikian para pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum dapat memanfaatkan Perpustakaan tersebut secara optimal untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki, dalam rangka pemberdayaan kwalitas SDM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: