MENANTI PRESIDEN KULIT HITAM AMERIKA


MENANTI   PRESIDEN  KULIT  HITAM  AMERIKA
Oleh : Fredrik Wakum

Meskipun pemilihan Presiden Amerika Serikat ke 44 masih menyisakan waktu 1,5 tahun lagi – tepatnya 4 November 2008 nanti –   tapi bursa pencalonan presiden negara adidaya itu sudah marak dengan berbagai kompetisi politik yang di ikuti tokoh – tokoh politik paling berpengaruh di AS, untuk  menentukan siapa diantara mereka yang pantas  menduduki kursi “Amerika 1”

Seperti biasa, partai Republik dan Demokrat sudah mulai mempersiapkan kandidat – kandidat unggulannya yang akan bertarung memperebutkan kursi Presiden AS. Kubu Republik menjagokan   Rudy Gulliani, pahlawan peristiwa 9/11, dan John McCain, pahlawan Perang Vietnam.

Sementara dari kalangan Partai Demokrat sendiri, memunculkan  mantan First Lady AS  Hillary Clinton yang juga senator dari New York  sebagai salah satu kandidat yang diunggulkan, namun kemunculan sosok Barack Obama (juga dari Partai Demokrat)  tak urung membuat kubu Hillary kalang kabut. Posisinya mulai goyah dan momentum politik kini mulai beralih ke Obama

Walaupun  konvensi Partai Demokrat masih setahun lagi, untuk memilih siapa yang bakal tampil dalam pencalonan Presiden AS,  tapi kehadiran  kehadiran kedua tokoh ini menyedot perhatian khalayak Amerika.

Jika Hillary Clinton sampai terpilih sebagai presiden AS, maka Hillary adalah Presiden wanita pertama, sedangkan  bila Barack Obama yang terpilih maka ia menjadi satu-satunya presiden kulit hitam pertama di AS.

Dan data jajak pendapat terakhir dari beberapa koran dan majalah terkemuka menunjukkan hasil sangat fantastis. Jajak pendapat yang dibuat ABC News / The Washington Post mencatat popularitas Obama yang terus naik “naik” dari 17 persen (19/1/2007) menjadi 24 persen (28/2/2007). Sedangkan Hillary Clinton (juga dari Partai Demokrat) per 28 Februari dipilih 36 persen—“turun” dari 41 persen (19/1/2007). Walau pemilihan masih 1,5 tahun lagi, popularitas Obama terus meroket karena jajak pendapat tadi membuktikan 87 persen rakyat tak keberatan mempunyai presiden kulit hitam. (KOMPAS – Sabtu, 03 Maret 2007 )

Biografi

Siapa sih Barack Obama ? yang telah mampu menyita perhatian publik  Amerika Serikat ketika mengumkan secara resmi dirinya  dalam  pencalonan Presiden Amerikan 2008 mendatang

Dari sedikit referensi yang “dikumpulkan” melalui Internet, dapat diketahui bahwa Barack Obama dilahirkan di Queen’s Medical Center di Honolulu, Hawaii 4 Agustus, 1961, dari Ayahnya berdarah Kenya (Afrika), bernama Barack Obama Sr, berasal dari suku Luo yang lahir di Alego (Afrika), sedangkan   ibunya bernama Stanley Ann Dunham, berasal dari Wichita, Kansas (AS).

Pernikahan antara  Barack Obama Sr dan Ann Dunham tahun 1959 terjadi di Honolulu, Hawaii, dilangsungkan pada saat pernikahan “antar – ras ” (miscegenation) dilarang di banyak negara bagian AS.

Ayah Barack Obama merupakan satu-satunya penerima beasiswa pertama asal Afrika di University of Hawaii (UH)  dan belajar ekonometri dengan menggaet prestasi terbaik di angkatannya. Sebagai jebolan terbaik University of Hawaii (UH)  menjadikannya masuk sebagai anggota Phi Beta Kappa, komunitas akademisi elitis yang susah diterobos masuk orang luar AS. Kemudian ia diterima di Harvard University dan pulang meninggalkan si Obama kecil untuk mengabdi bagi negaranya,

Ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke Kenya, dan ia hanya bertemu sekali dengan anaknya sebelum meninggal akibat. kecelakaan mobil (1982)

Ibunya Stanley Ann Dunham kemudian menikah lagi dengan Lolo Soetoro juga seorang mahasiswa East-West Center (MA Geografi 1962) dari Indonesia, yang kemudian memboyongnya pindah ke Indonesia bersama si kecil Barack Obama,   karena menjadi konsultan relasi antara Pemerintah Indonesia dan perusahaan minyak raksasa AS,  Di mana adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dilahirkan (Obama juga memiliki saudara-saudara tiri dari ayahnya yang menikah lagi).

Pada masa kecilnya di Jakarta, Barack menggunakan nama  Barry Obama yang tercatat pernah bersekolah di SDN Menteng dan sebelumnya di sekolah katolik Fransiskus Asisi Jakarta.

Menurut penelusuran majalah GATRA (http://www.Gatra.com), Obama pernah tercatat sebagai murid di SD Franciscus Asisi di kawasan Menteng Dalam, Jakarta Pusat. Tentu saja para guru di sekolah Katolik itu tidak mengenal nama Barack Obama. Sebab, ketika ia masuk sekolah tersebut pada 1 Januari 1968, duduk di kelas 1B, namanya tercatat sebagai Barry Soetoro. Dalam dokumen kesiswaannya, Barry kecil disebutkan sebagai warga negara Indonesia, lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961. Dalam kolom orangtua tertulis ayahnya bernama L. Soetoro, ibunya bernama Ann Durham. Barry sangat menonjol dalam pelajaran matematika.

Ayah angkatnya Lolo Soetoro sendiri meninggal 2 Maret 1993, sementara ibunya meninggal akibat kanker ovaria pada 1995.

Kembali ke Obama. Ketika berusia 10 tahun Obama kembali ke Hawaii dan diasuh kakek-neneknya, (Madelyn Dunham) dan kemudian ibunya, untuk pendidikan yang lebih baik. Ia masuk kelas lima di Punahou School, di mana ia lulus dengan honors pada 1979.

Seperti kata pepatah : “Buah tidak mungkin jatuh jauh dari pohonnya”. Sang Obama  Jr juga segera menamatkan pendidikannya Columbia University (1983) dengan predikat terbaik, lalu  pindah ke Chicago (1985) untuk bekerja pada lingkungan gereja dalam mengatasi masalah kemiskinan  dan pengangguran yang  tinggi. Kemudian  meneruskan pendidikan Harvard Law School dengan berhasil dengan Magna Cumlaude  (1991), sehingga dia terpilih menjadi presiden pertama Amerika hitam pada Harvard Law Review – jurnal hukum berwibawa.

Dengan perjuangan dibidang Politik yang tak kenal lelah, akhirnya ia terpilih sebagai Senator Partai Demokrat asal Illinois Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hitam ke-3 dalam sejarah AS, setelah sebelumnya menjadi dosen di Universitas Chicago, senator di Negara Bagian Illinois.

Barack Obama menikah  dengan Michelle (1992), kini dikaruniai 2 orang putri cantik Malia (8) dan Sasha (8). Ia sangat bangga sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah bagi kedua anak-anaknya.

Dukungan

Menjadi seorang politisi, terlebih lagi  sebagai orang keturunan Amerika – Afrika, Barack mampu menggali dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, dari kota sampai desa termasuk wilayah yang didominasi kulit putih pada 2004 lalu. Inilah kekuatan Barack yang patut diperhitungkan untuk maju sebagai calon presiden AS 2008 nanti.

Terlepas dari riuhnya pencalonan presiden AS, Barack Obama sendiri memang dikenal sebagai orang yang brilian. Barack naik daun setelah memenangkan pemilihan senat AS mewakli Illinois. Barack telah menjadi sosok populer menjelang Pemilu AS pada 2004 dan menjadi salah satu bintang dalam Konvensi Nasional Demokrat 2004.

Pria murah senyum ini mulai menarik perhatian warga Amerika Serikat dan dunia karena pidato utamanya pada Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004 lalu. Saat itu juga, ia menjadi senator negara bagian Illinois. Tahun itu juga, Obama pun terpilih sebagai orang keturunan Afrika pertama yang memenangkan pemilihan ke Senat AS dari Partai Demokrat dari Illinois.

Obama sendiri memiliki kemampuan sebagai orator dengan pribadi yang karismatik. Kefasihan dan caranya berbicara, tekanan suaranya, tatapan matanya, gerak tubuhnya: semua elemen-elemen dasar ini saling memperkuat dan memunculkan citra seorang pemimpin yang sungguh-sungguh, kredibel, menawan, dan membangkitkan simpati serta harapan sekaligus, sama dengan Bill Clinton dan Ronald Reagan sebelumnya. Kekuatan karisma inilah yang melembutkan kritik yang banyak ditujukan terhadapnya sebagai seseorang yang masih hijau dalam panggung pemerintahan.

Disamping itu Salah satu hal yang membuat publik Amerika jatuh hati adalah : pengalaman hidupnya juga merupakan manifestasi The American Dream itu sendiri. Sama seperti Colin Powell, dari keluarga menengah bawah. Publik Amerika mudah jatuh hati pada cerita sukses semacam ini, apalagi oleh seorang anak muda kulit hitam yang tak suka mengeluh dan menyalahkan situasi di sekelilingnya, termasuk sejarah perbudakan di Amerika.

Para pendukung Barack kemudian melakukan berbagai upaya untuk mendorong pakar hukum itu untuk menjadi calon presiden 2008 dari Partai Demokrat. Salah satunya adalah para pendukungnya  membuat petisi online untuk mengumpulkan dukungan di situs web, http://www.petitionspot.com/petitions/Obama.

Tidak hanya itu, mereka juga membuat suvenir-suvenir sebagai dukungan bagi Barack. Suvenir-suvenir itu dijual di beberapa tempat maupun secara online. Ada kaos, topi, pin, stiker, dan lain-lain.

Tidak ketinggalan juga dukungan yang berdatangan dari para selebriti Hollywood yang menyumbangkan $1,3 juta bagi kampanye bakal calon presiden Amerika dari Partai Demokrat tersebut, pada pesta penggalangan dana yang dilaksanakan di Los Angeles, beberapa waktu yang lalu

Tiket pesta penggalangan dana yang dihadiri para bintang itu terjual seharga $2.300 – merupakan sumbangan perorangan terbesar bagi kampanye pemerintah federal Amerika Serikat.

Acara itu, diselenggarakan di hotel Beverly Hills,  dimotori oleh Spielberg dan dua rekannya, Jeffrey Katzenberg dan David Geffen, yang merupakan mitra-mitra Spielberg ketika mendirikan studio film, Dreamworks. Hadir pula Sutradara dan produser film Steven Spielberg, aktor Eddie Murphy dan penyanyi Jackson Browne turut menghadiri acara tersebut.

Politik

Obama terkenal karena politik multikulturalismenya dan pemikirannya yang moderat. Dalam pidato Call to Renewal, 28 Juni lalu, ia memberikan pandangannya mengenai multikultural di AS dengan menyatakan, “Apa pun asal kita semula, kita bukan lagi sekadar bangsa Kristen; kita juga bangsa Yahudi, bangsa Muslim, bangsa Buddhis, bangsa Hindu, bahkan bangsa orang yang tak punya kepercayaan.”  Memberikan gambaran tentang pemahamannya terhadap Amerika yang multikultur

Obama meminta rakyat untuk menyandingkan kepercayaan dengan demokrasi pluralistik modern. Katanya, demokrasi menuntut orang-orang termotivasi untuk menerjemahkan ajaran agama ke nilai-nilai universal, bukan sekadar menerjemahkan nilai-nilai khusus keagamaan.

“Kita dituntut untuk membahas setiap usulan dengan argumentasi dan bisa dibuktikan dengan rasio…. Politik tergantung kemampuan kita saling membujuk mengenai tujuan bersama didasarkan realitas umum. Politik melibatkan kompromi, seni dari apa yang mungkin,” katanya.

Politik moral bersemangat multikulturalisme yang ditawarkan Obama menjadi semacam mantra semangat di tengah iklim dan suasana politik yang kaku dan mengandalkan kekuatan fisik yang dikembangkan Bush.

Multikultarisme yang memberi penghargaan atas pendapat kelompok lain menjadi sesuatu yang didambakan di tengah politik “yang tidak bersama kami adalah musuh kita” Bush selama ini.

Meski demikian, sikap dan pandangan Obama menimbulkan kontra di masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap Obama radikal. Selain itu, pandangannya yang kritis sering menempatkannya mengkritik partainya sendiri.

Salah satu pernyataannya yang paling menarik adalah saat dia berani menyerang Bush terkait pendudukan AS di Irak. Ketika itu Bush sedang popular dengan invasi ke Irak dan semua orang tidak berani mengkritiknya. Hanya Obama sendiri yang tidak setuju dengan kebijakan Bush. Dia mempertanyakan, dengan pendudukan di Irak, akan berapa banyak serdadu AS yang tewas setiap hari ?  Setelah beberapa tahun, banyak orang mulai mempertanyakan kebijakan tersebut melalui demonstrasi ataupun aksi-aksi lainnya.

Selama menjadi senator AS sejak 2004, Barack Obama juga telah sering muncul di media massa. Berbagai hal telah dilakukannya, sehingga membuat namanya harum. Saat flu burung merebak di Asia, termasuk Indonesia, dialah senator AS yang pertama menyuarakan perlunya AS juga memperhatikan flu burung.

Disamping itu dari segi substansi dan spektrum ide-ide yang ditawarkannya, Barack Obama bisa juga digolongkan sebagai politisi moderat dari tradisi liberal Amerika. Atau secara lebih sederhana ia bisa disebut sebagai the third way politician, politisi jalan tengah sebagaimana tradisi yang telah dirintis Bill Clinton dan Tony Blair. Hal inilah yang membedakan Obama dengan banyak politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrem, baik di kiri (Jesse Jackson) maupun di kanan (Alan Keyes).

Dalam membangun ekonomi Amerika, ia mengakui pentingnya peran mekanisme pasar, namun ia tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam kehidupan keagamaan, ia bisa bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia mengerti betul bahwa tradisi sekularisme Amerika adalah tradisi sakral yang harus terus-menerus diperkuat. Dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin membangun a vital center, sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandangan-pandangan yang bertentangan.

Hampir dalam setiap isu, hal semacam itulah yang kita temui dalam buku setebal 375 halaman ini. Intuisi Obama adalah mencari moderasi dan jalan tengah. Ia ingin merangkul sebanyak mungkin kalangan. Untuk itu, ia bahkan sanggup mencari kebenaran pada lawan-lawan politiknya dan mengakui bahwa kaum Republikan sering kali memiliki pandangan yang lebih baik.

Kaum pengkritik Obama barangkali dapat menemukan titik lemah dalam pandangan dan intuisi seperti itu. Sebagian orang bisa berkata bahwa intuisi demikian sudah menjadi sebuah obsesi. Sementara sebagian lagi dapat menuduh bahwa jalan tengah bukanlah sebuah jalan keluar, melainkan sebuah pelarian, sebuah jalan pintas untuk menghindari pilihan-pilihan sulit yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.

Kritik demikian cukup mengandung kebenaran. Namun, satu hal yang jelas: Obama bukanlah seseorang yang tidak mampu menghadapi pilihan-pilihan sulit dan selalu menghindari risiko. Ia adalah salah satu dari sedikit politisi yang secara tegas menentang tindakan Bush di Irak yang waktu itu sangat populer. Sekarang, setelah Perang Irak dianggap gagal, hampir semua orang mengecam Bush—tetapi pada saat awal, Obama mengambil risiko besar dengan memilih untuk melawan arus.

Adapun mengenai jalan tengah sebagai proposisi kebijakan, barangkali memang saat ini Amerika lebih membutuhkannya. Sejarah melahirkan aktor-aktornya sendiri. Setelah zaman Bush, Amerika sekarang dahaga akan datangnya seorang pemimpin yang merangkul, seorang heal-maker, seorang yang sanggup membangun jembatan bagi begitu banyak perbedaan yang ada.

Tentu saja, politisi yang piawai harus mampu menjawab persoalan-persoalan praktis. Seorang heal-maker harus juga sanggup menjadi seorang deal-maker. Tanpa itu, ia hanya akan menjadi seorang nabi, bukan pemimpin pemerintahan. Karena itu, yang paling penting adalah akal sehat dan kemampuan untuk melihat fakta sebagaimana adanya. Jalan tengah sebagai sebuah proposisi kebijakan dalam praktiknya ternyata sangat fleksibel. Seperti yang bisa dilihat pada pemerintahan Bill Clinton dan Tony Blair, ia terkadang bergeser ke kanan dalam isu-isu ekonomi karena memang tidak ada lagi pilihan yang lebih baik dalam mengatasi persoalan-persoalan praktis untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat di zaman ini. Barack Obama pun akan melakukan hal itu jika ia memang menang dalam pemilu tahun depan. Dan mungkin, kalau membaca tulisan-tulisannya, ia akan melakukannya dengan lebih baik dan simpatik.

Tantangan

Saat ini tantangan yang “harus” dihadapi oleh Obama adalah  melepaskan stigma radikalisme  yang berusaha di “lekatkan”  lawan-lawan politiknya, karena kenyataan bahwa ia pernah bersekolah dan tinggal di Jakarta

Namun tantangan paling serius yang harus dihadapi adalah, berusaha mengubah kebiasaan rakyat AS  yang selalu memilih Presiden  dari kalangan Eksekutif semenjak Perang Dunia II , kecuali Kennedy yang sebelumnya berasal dari

Lihat saja, jabatan terakhir sebelum menjadi presiden adalah eksekutif. Harry Truman (Wapres), Dwight Eisenhower (Jenderal), Lyndon Johnson (Wapres), Richard Nixon (Wakil presiden), Jimmy Carter (Gubernur), Ronald Reagan (Gubernur), George H Bush (Wapres), Clinton (Gubernur), George W Bush (Gubernur). Mungkin rakyat AS menganggap presiden adalah jabatan eksekutif sehingga diperlukan tokoh berpengalaman di eksekutif.

Disamping itu perjuangan yang harus dilalukan Barack mematahkan  mainstream yang dominant di AS, yaitu : seorang Presiden Amerika harus : White, Anglo-Saxon, dan Protestant (WASP), sehingga kepemimpinan puncak AS selalu didominasi warga berdemografis WASP. Sejak tahun 1797 atau dari 43 presiden, belum ada satu pun presiden wanita atau  kulit hitam

Buku

Obama bukan saja seorang politisi yang jenius, ia juga seorang penulis berbakat. Saat ini  Memoar yang ditulisnya sepuluh tahun lalu, “Dreams from My Father”, yang bercerita tentang masa kecilnya hingga menyelesaikan kuliahnya, tentang keluarga dan lingkungan dekatnya di Chicago, kini menjadi bestseller  di Amerika Serikat.

Sehingga Kolumnis terkenal dari majalah TIME, Joe Klein, menganggap memoar tersebut sebagai salah satu memoar terbaik yang pernah ditulis seorang politisi Amerika.

Katanya : ”Dengan memoar semacam ini, jika Obama tidak meniti karier di dunia politik, barangkali ia tetap bisa tumbuh dan mengukir nama harum sebagai salah satu penulis besar Amerika “

Bukunya yang terbaru, The Audacity of Hope, dalam waktu singkat juga telah menempati posisi bestseller. Sama dengan Dreams, dalam buku ini kita bisa melihat betapa Obama memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap dimensi-dimensi manusiawi dari setiap persoalan yang ditemuinya. Ia sangat peka terhadap ironi dan tragedi dalam interaksi sosial, serta mampu menceritakan semua itu dalam penuturan yang sederhana namun cerdas dan mengalir mengenai orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

Namun, berbeda dengan sebelumnya, dalam buku The Audacity of Hope Obama menulis tentang dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. Ia menulis dengan mata yang tertuju pada Gedung Putih, dan karena itu menawarkan sebuah platform kebijakan dari seorang kandidat presiden. Dan, dalam melakukannya, ia tidak terjebak dalam analisis-analisis yang kering, tetapi membingkainya dengan anekdot, cerita, dan ungkapan-ungkapan yang memberi jiwa pada analisis-analisis tersebut.

Di situlah terletak salah satu kekuatan seorang Barack Obama. yang melihat setiap persoalan politik atau isu kebijakan selalu dimulai dan diakhiri dengan cerita tentang manusia, tentang kepedihan dan harapannya, tentang kekuatan dan kelemahannya. Di sini ia memperlihatkan bahwa dunia politik dan kebijakan tidak berada di ruang hampa, tetapi berhubungan langsung dengan nasib dan kehidupan manusia-manusia yang riil.

Apa pun, cerita tentang Obama masih akan panjang. Untuk saat ini kita patut memberi selamat kepada publik Amerika. Negeri mereka seolah tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin berbakat yang penuh inspirasi.

Satu Tanggapan

  1. […] More on this story here […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: