KENAIKAN HARGA BARANG & JASA DI TIMIKA


KENAIKAN HARGA BARANG &  JASA DI TIMIKA
Oleh : Fred Wakum

Demo damai Karyawan PTFI, Privatisasi dan Kontraktor beberapa waktu lalu yang menuntut “perbaikan nasib” telah membuahkan hasil. Menejemen secara positif merepons tuntutan mereka untuk menaikkan pendapatan perbulan (baca : gaji) dan saat  ini ditindak – lanjuti   dengan  dialog sedang yang berlangsung di Jakarta antara Manajemen PTFI dengan SPSI dan Tonggoi Papua, untuk  menuangkan kesepakan tersebut dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB ) PTFI

Celakanya kenaikan gaji (karyawan) belum terealisasi (masih terjadi dialog di Jakarta), tapi harga kebutuhan pokok dan jasa di Timika sudah mulai merambat naik, bahkan terkesan mulai tidak terbendung, jika tidak ingin dikatakan ngaur

Bila dicermati dengan seksama, maka kenaikan gaji karyawan PTFI, Privatisasi dan Kontraktor tidak mempunyai hubungan causal (sebab – akibat) yang berpotensi langsung memicu kenaikan harga kebutuhan pokok (sembako) maupun jasa.

Dampak positif dari kenaikan gaji karyawan  berpengaruh pada daya beli karyawan yang tinggi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, sehingga bermuara pada perputaran modal usaha makin lancar, yang pada akhirnya memicu perekonomian Mimika ke sentimen pasar yang lebih baik.

Bila  yang mengalami kenaikan harga adalah  Bahan Bakar Minyak (BBM) – secara Nasional maupun Internasional – maka sudah tentu kita tidak dapat menghindarkan diri dari kenaikan harga pada sektor lainnya, kerena  ada korelasi causal yang saling mempengaruhi hal tersebut. Dimana  semua mesin produksi dan alat transportasi yang dioperasikan dengan menggunakan  BBM sudah dipastikan ikut menaikkan harga, sehingga ikut pula memicu pada kenaikan harga  bahan – bahan  pokok (sembako) dan lainnya, karena dalam memproduksi atau memobilisasi kebutuhan pokok tersebut kepenjuru tanah air, harus menggunakan  biaya transportasi yang mahal hingga akhirnya berimbas disemua lini.

Demikian juga dengan kelangkaan Minyak Goreng  yang terjadi secara nasional saat ini, atau jika sampai terjadi bencana alam maupun suatu “kondisi” luar biasa, yang mempengaruhi persediaan stok nasional, maka hal ini dapat ditoleransi secara logis sebagai faktor yang mempengaruhi kenaikan harga (sesaat) dan kembali situasi harga akan menjadi normal ketika kendala / masalah dapat diatasi.

Sehingga  sangat disayangkan, kalau kenaikan harga di Mimika dikaitkan dengan kenaikan gaji karyawan.  Padahal Timika merupakan kota “heterogen”, yang mana tidak hanya didiami oleh Komunitas  Karyawan PTFI saja, tetapi masih banyak profesi lain di kota ini seperti : PNS, TNI, Tani, Nelayan, Swasta, wiraswasta dan kawan-kawan Pencaker serta komponen masyarakat lainnya.

Kenaikan harga barang dan jasa di Timika jika dibiarkan terus naik tak terkendali, maka akan memberatkan pihak-pihak yang lain  (bukan meremehkan), karena kenaikan gaji karyawan tidak secara otomatis diikuti dengan kenaikan gaji PNS dan TNI, karena kenaikan gaji kedua elemen ini  ditentukan secara nasional berdasarkan pertimbangan – pertimbangan tertentu dari Pemerintah Pusat. Begitu pula dengan UMR untuk Propinsi  Papua. 

Dampak

Disamping itu  karyawan PTFI, kontraktor dan Privatisasi semuanya tidak tinggali di Timika, sebagian besar malah tinggal di Mess atas barak-barak yang telah dipersiapkan perusahaan untuk karyawan. Maka sangat tidak bijaksana, jika  kenaikan gaji “satu komponen”  masyarakat kemudian dijadikan tolak ukur untuk ‘seenaknya” menaikkan harga barang di Timika sehingga menjadikan Timika sebagai kota dengan biaya hidup teringgi (high cost) di Indonesia.

Bila  harga barang dan jasa di Timika terus merambat naik tak terkendali, sehingga mengakibatkan biaya hidup di Timika makin tinggi, maka secara langsung maupun tidak langsung   keadaan tersebut akan berdampak pada :

Pertama, Karyawan yang tidak mempunyai keluarga di Timika – terutama mereka yang tinggal di Mess dan Barak – barak akan   berpikir  dua kali atau sulit    untuk membelanjakan uangnya di Timika, mereka akan lebih memilih untuk membelanjakan uangnya di tempat yang lebih murah. Padahal kita mengetahui bahwa para karyawan tersebut jumlahnya sangat banyak dan mempunyai tingkat konsumsi yang tinggi, sehingga potensial menjadi target pasar.

Kedua, karyawan yang saat ini kost di Timika bersama keluarganya, akan memilih untuk “memulangkan / mengembalikan” keluarganya  ke tempat asal dan si – karyawan akan memilih “back to barack” untuk menghindari high cost di Timika

Jika hal ini sampai terjadi maka sangat disayangkan, uang yang “seharusnya” dibelanjakan di Timika akhirnya dialirkan ke daerah lain. Timika hanya dijadikan tempat “mendulang” uang, sementara daerah lain yang menikmati, maka sudah dipastikan bahwa rasa memiliki terhadap tanah Amungsa sangat rendah.

OMB

Dampak lain dari adanya biaya hidup tinggi di Timika adalah masyarakat yang memilih untuk “bertahan” hidup di Timika karena satu dan lain hal, akan  “menghalalkan” sagala cara, untuk menutupi penghasilan / gaji yang tidak mencukupi. dan kita pasti  telah mengetahui  “ending” dari upaya tersebut..Yang terkena imbas  adalah petani, nelayan dan para Pencaker yang sedang mencoba keberuntungan mereka dikota ini.

Akhir dari semua ini adalah akan semakin muncul banyak OMB (Orang Miskin Baru) di Mimika, yang akan mengulangi kisah tragis tentang “seekor tikus yang mati kelaparan di dalam lumbung beras”. Pada tataran yang lebih jauh,  bila  Kemiskinan mulai berkolaborasi dengan  Kebodohan, maka akan muncul masalah – masalah  sosial semakin rumit laksana benang kusut di bumi Amungsa ini.

DPR

Melihat semua ini, Dewan Perwakilan Rakyat Mimika sebaiknya segera mengambil inisyatif mengundang pihak – pihak terkait untuk membahas kenaikan harga barang dan jasa di  Mimika yang akhir – akhir ini mulai tidak terkendali, kemudian ditindak – lanjuti  dengan Operasi Pasar secara langsung  untuk mengecek kenaikan harga.

Bukankah kita semua ingin menjadikan Mimika sebagai “rumah sendiri” yang kondusif dan aman bagi semua pihak dalam berusaha  & bahu – membahu  membangun Bumi Amungsa Tercinta ini dengan penuh rasa tanggung jawab ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: