SWEEPING ODHA DI PAPUA


SWEEPING  ODHA  DI PAPUA
Oleh : Fred Wakum

Untuk segera mengetahui peta situasi HIV/AIDS di Papua, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari merencanakan akan “menjemput bola”, untuk menemukan kasus-kasus HIV/AIDS. Cara yang dilakukan adalah dengan pemeriksaan dari rumah ke rumah.( Kompas 27 February, 2007)

Program  “menjemput bola” ala  Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari patut disambut positif, karena  Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat menduduki posisi kedua secara Nasional mengenai  laju pertumbuhan HIV/AIDS yang sangat signifikan. 

Hingga Desember 2006 jumlah pengidap HIV tercatat 947 orang  (Kompas 27 Feb 2007). Jumlah ini merupakan kasus AIDS nomor dua paling tinggi setelah Jakarta, disamping propinsi-propinsi lainnya di Indonesia yang menunjukkan peningkatan antara lain : Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan.

Menurut Mentri Kesehatan, kasus AIDS di Papua  dikategorikan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa), karena telah memasuki tahap generalized epidemic (epidemi umum). Kasus di Papua khas, pasalnya untuk usia 14-19 tahun, prevalensi jumlah penderita HIV/AIDS 20 kali lebih tinggi daripada angka rata-rata nasional.

“Bila di provinsi lain, sebagian besar pengidap HIV/AIDS awalnya tertular dari jarum suntik pemakai narkoba, namun di Papua sebagian besar penderita HIV/AIDS tertular dari hubungan seksual,” jelas Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari saat Rapat Kerja (Raker) dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Senin (26/2). – (Radar Timika, 28 Feb 2007)

Laju pertumbuhan pengidap HIV/AIDS, usia yang terinveksi  serta “pola” penularan di Papua rupanya menjadi faktor utama yang mendorong Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari untuk turun tangan secara langsung  guna mengetahui peta situasi HIV/AIDS di Tanah Papua lebih terperinci.

Kebijakan “jemput Bola” dengan mengadakan pemeriksaan door to door  (baca :sweeping ) di Papua  patut disambut secara positif, karena AIDS di Papua merupakan fenomena gunung es

Sweping

Terlepas dari itikad  baik menteri kesehatan untuk  memetakan masalah AIDS di Papua, dengan melibatkan berbagai unsur seperti Pemerintah (Gubernur Papua), LSM serta sukarelawan yang akan mengadakan pemeriksaan dari rumah ke rumah. Sudah seyogyanya masyarakat ikut dipersiapkan terlebih dahulu secara mental dan phiskologi untuk menyambut “gaweyan”  tersebut.

Jika rencana “pemetaan” AIDS di Papua dilakukan tanpa mempersiapkan kondisi masyarakat (pra kondisi)  untuk menerima kedatangan  petugas yang akan mengadakan maka dikhawatirkan,  Pertama : Masyarakat tidak akan ikut terlibat secara total dan aktif dalam menunjang program tersebut, karena menganggap bahwa Program “menjemput Bola” hanya untuk kepentingan pemerintah pusat dalam pengumpulan data  yang pada akhirnya  “hanya” dipakai sebagai laporan  atau di “jual” ke Komisi AIDS sedunia, bahwa pemerintah Indonesia telah berbuat “sesuatu” di  daerah – daerah   epidemi AIDS di negaranya.

Kedua,  Program ini terkesan “otoriter dan mendadak” dari  pemerintah pusat kepada masyarakat Papua. Walaupun pada hatekatnya program ini bermanfaat bagi masyarakat Papua, tapi jika dilaksanakan secara  instant dan terburu – buru, dapat menimbulkan shock bagi masyarakat. Disamping itu  Kondisi Geo – Politik dan karakteristik masyarakat Propinsi Papua yang jauh berbeda dengan   masyarakat di Indonesian, sehingga dapat  penafsiran yang berbeda /salah mengenai program tersebut.

Maka pemerintah melalui Menteri Kesehatan, sebelum mengadakan  pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk memastikan pengidap HIV/AIDS di Papua, maka sebelumnya mempersiapkan pra-kondisi rencana tersebut dengan :

Pertama, Mengadakan Pendekatan  / Sosialisasi  secara secara menyeluruh dan sistimatis kepada masyarakat meliputi : manfaat / kegunaan dari program ini serta kelangsungannya ( bukan janji – janji isapan jempol). Kedua, Mulai dengan re-check  dan menguji kembali data – data  AIDS yang telah ada sebelumnya di tiap Kabupaten

Ketiga, Melibatkan berbagai Unsur mulai dari Media Lokal ( Koran dan Radio),  Elemen-elemen  AIDS  yang berbasis di Kabupaten  atau Kecamatan (kalau ada), Unsur Wanita, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat,  KPA, Perusahaan Asing Maupun Nasional, Pemerintah Daerah (PEMDA), Anggota Dewan (DPR), dan Tidak Lupa ODHA  yang  ada pada  tiap kabupaten di Papua.

Keempat, Menyiapkan perangkat lain yang diperlukan seperti : Surat Keputusan, Surat Tugas dan peralatan  pemeriksaan  sample darah beserta SDM  yang menangani dan mengelolanya, sehingga masyarakat tidak terlalu lama menunggu hasil pemeriksaan

Semua ini dimaksudkan agar ketika program ini digelar, masyarakat Papua telah siap secara mental dan phisik untuk didata, serta terlibat aktif menunjang program tersebut, karena mengetahui manfaat besarta kelanjutan  dari program tersebut.

Bukankah akan menjadi isu pelanggaran HAM, jika seseorang “dipaksa” atau diambil secara “paksa” darahnya untuk  diperiksa dari rumah ke rumah atas nama HIV/AIDS ? padahal yang sangat kita harapkan adalah adanya kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat dalam program ini.

Berkelanjutan

Persoalan paling utama adalah, bagaimana mempertahankan serta meningkatkan apa yang akan dan telah dikerjakan Mentri Kesehatan kemudian mem – follow up  dalam program kerja yang nyata dan berkelanjutan, sehingga dapat membuahkan hasil. Selain itu Kunjungan berkala juga sangat dibutuhkan bagi Lembaga-lembaga yang berorientasi terhadap masalah HIV/AIDS di Papua

Akan lebih baik jika upaya nyata yang perlu segera direalisasikan Pemerintah lewat Mentri Kesehatan dengan mendirikan  “Rumah Singgah” bagi  ODHA pada setiap Kabupaten di Papua.setelah data-data tersebut dikumpulkan, bukan malah  data – data   HIV/AIDS  di Papua  yang diambil “hanya” dipakai  sebagai  bahan Laporan, Seminar, dan Makalah kemudian tersipan rapih dalam arsip.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: