KUNJUNGAN PRESIDEN PUTIN DAN PANGKALAN SATELIT RUSIA DI BIAK


KUNJUNGAN PRESIDEN PUTIN
DAN PANGKALAN SATELIT RUSIA DI BIAK
Oleh : Fredrik Wakum

Lawatan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Jakarta hari Kamis 6 September kemarin dinilai mempunyai arti penting, karena ia merupakan satu-satunya Presiden Rusia (dulu Uni Sovyet) yang pernah berkunjung ke Indonesia

Disamping itu hal paling penting dalam Kunjungan singkat selama 20 jam di Jakarta, adalah Presiden Putin secara khusus akan bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono untuk menandatangani perjanjian penguatan kerja sama pertahanan RI – Rusia. soal pengembangan Biak Numfor, Papua, sebagai lokasi peluncuran satelit-satelit Rusia dari sistem peluncuran udara atau air launch system (ALS)

Russia sebenarnya sudah lama melirik Biak, sebagai pangkalan peluncuran satelit mereka. Keinginan mereka sempat mendapat “lampu hijau” masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, ketika tahun 2003 Presiden Megawati dan Menristek Hatta Radjasa saat melakukan perjalanan ke Rusia, untuk membahas masalah kerjasama penggunaan Biak sebagai pangkalan peluncuran satelit Rusia, kemudian tenggelam oleh pergantian kepemimpinan, keinginan itu rupanya baru bisa tercapai sekarang.

Keinginan Rusia untuk menggunakan Biak sebagai peluncuran satelit, baru kembali mengemuka dalam Forum Bisnis Rusia-ASEAN Ke-2 yang diadakan di Kuala Lumpur, beberapa waktu lalu. Presiden Air Launch Aerospace Corporation Anatoly Karpov kepada kantor berita DPA menyebut bahwa Rusia dan Indonesia sudah merampungkan persetujuan pemerintah dengan pemerintah (G to G) mengenai kerja sama dalam eksplorasi antariksa bagi keperluan bisnis.

Kilas-balik

Apabila dikilas – balik hubungan diplomatik Indonesia – Rusia, maka telah berlangsung selama 57 tahun walaupun mengalami pasang surut. Awal hubungan ditandai oleh kedatangan Menteri Luar Negeri Uni Soviet A Vysshinky untuk menyampaikan keputusan pengakuan Uni Soviet kepada RI. Presiden Soekarno pun melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet (1955).

Disusul nota kesepahaman di bidang perdagangan dan teknik (1959), realisasi pembangunan fakultas teknik di Ambon, dan Stadion Senayan oleh Pemerintah Uni Soviet. Tahun 1960 Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschov berkunjung ke Indonesia.

Intensitas hubungan meningkat tahun 1961, dengan ditandatanganinya kontrak bantuan Uni Soviet untuk membangun dua reaktor nuklir di Indonesia, dan pembebasan Irian Barat (Papua) dari Belanda. Namun, sejak meletusnya pemberontakan G30S tahun 1965, hubungan kedua negara mulai mendingin karena Uni Soviet dianggap mendukung pemberontakan itu.

Hubungan Indonesia-Rusia mulai membaik lagi sejak kunjungan resmi Presiden Soeharto (1989) dengan kesepakatan bersama “untuk tidak merugikan kepentingan negara lain mana pun serta tidak memengaruhi kewajiban bilateral, regional, maupun multilateral”.

Pada masa kepemimpinan Gus Dur dibuat kebijakan, warga negara Indonesia yang sudah lama menetap di Rusia boleh datang ke Indonesia, kemudian dibuat kerja sama dalam bidang logistik, peralatan pertahanan, dan bantuan teknis militer. Selanjutnya dibuat persetujuan kerja sama dalam bidang kebudayaan (1998), persetujuan ekonomi, teknik, dan perdagangan (1999).

Selama kepemimpinan Presiden Megawati, hubungan Indonesia-Rusia semakin meningkat. Tahun 2000 dilakukan kerja sama dalam bidang pendidikan, kebudayaan, perdagangan, dan teknologi yang direalisasikan dalam pembelian pesawat terbang Sukhoi dan helikopter.

Kerja sama ini dilanjutkan pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dengan nota kesepahaman (2006) dan sebagai komitmen atas nota yang telah dibuat tersebut Rusia memberikan bantuan kepada Indonesia sebesar 1 miliar dollar AS dengan jangka waktu kredit selama 15 tahun untuk pengadaan persenjataan Indonesia selama tahun 2007-2010.

Strategis

Menurut Presiden Air Launch Aerospace Anatoly Karpov, Biak merupakan tempat sangat strategis dan terbaik bagi peluncuran satelit di garis katulistiwa (ekuator). Dengan posisi timur Biak yaitu hamparan laut dengan ribuan mil jauhnya, maka jika terjadi suatu kesalahan dan satelit jatuh ke bumi akan relatif “aman”.

Disamping itu jika terjadi peluncuran roket/satelit dari Biak lebih menghemat bahan bakar roket, dan karenanya lebih murah dari segi biaya. Kebanyakan satelit yang diluncurkan saat ini, terutama satelit komunikasi, merupakan satelit dengan orbit geostasioner, yang memang harus menetap pada posisi di atas ekuator.

Berbeda dengan pangkalan angkasa luar yang ada di Rusia maupun di negara Eropa ataupun di Amerika Serikat. Di semua kawasan itu, roket ataupun pesawat ulang alik begitu ditembakkan dari bumi, masih harus mengitari orbit bumi sebanyak 2 hingga 3 kali dulu baru kemudian bisa masuk ke angkasa luar.

Satu-satunya pihak asing yang telah memanfaatkan potensi Biak adalah Badan Ruang Angkasa India (Indian Space Research Organization, ISRO) yang telah bekerjasama dengan LAPAN untuk membangun stasiun TT&C (Tracking, Telemetry, and Command) di sana. Stasiun ini menjadi penting karena saat India meluncurkan roket pengangkut satelitnya, proses pelepasan muatan roket dilakukan diatas angkasa Irian (Papua), dan satu-satunya stasiun Bumi yang bisa memonitor dan mengendalikan proses ini hanyalah stasiun di Biak

Resiko

Yang jelas penandatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Rusia Vladimir Putin, akan berdampak langsung pada masyarakat yang mendiami Pulau Biak, sehingga mereka sudah harus bersiap – siap menerima resiko dari adanya mega-proyek pembangunan pangkalan peluncuran satelit di Biak.

Mulai dari pembebasan tanah adat yang selalu merugikan rakyat kecil dan menguntungkan pejabat yang selalu bertindak atas nama pembangunan dan kemakmuran.

Juga menurut Presiden Air Launch Aerospace Anatoly Karpov, bahwa peluncuran satelit di Biak dapat juga mendatangkan risiko bisnis, di antaranya dapat menimbulkan kerusakan dan kepunahan di biota laut sekitar Pulau Biak hingga beberapa ribu mil dari laut, termasuk risiko satelit jatuh ke bumi (Biak). Dampak lainnya adalah adanya bahaya radiasi dan pencemaran lingkungan dan manusia di Pulau Biak .

Jika biota laut tercemar dan punah nelayan akan kemana ? Jika tanah tercemar radiasi Petani akan kemana ? Kita semua berharap, penanda tangan perjanjian RI – Rusia akan membawa kemakmuran bagi Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Biak karena di atas tanahnyalah Pangkalan Peluncuran Satelit Rusia dibangun, bukan akan membuka luka baru dan memperpanjang derita …. SEMOGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: