FESTIVAL BUDAYA PAPUA


FESTIVAL  BUDAYA  PAPUA
Oleh : Fred Wakum

Festival Danau Sentani (Jayapura),  yang dipusatkan di dermaga Pantai Yahim Sentani dari 23-29 September 2006 telah berakhir, kemudian disusul Festival Budaya  Kamoro (Timika) yang  digelar 31 September – 1 Oktober 2006 yang lalu di Multi Purpose Room Kuala Kencana  dan Pesta Budaya Asmat  berlangsung  dari 6-11 Oktober 2006 baru saja berakhir

Ketiga Festival tersebut “hanya” sebagian kecil dari berbagai budaya yang tersebar didaratan  Tanah Papua. Namun suatu kesan yang timbul adalah pelaksanaan Festival Budaya tersebut sepertinya berdiri sendiri-sendiri dan dilaksanakan atas  prakarsa “mereka-mereka” yang berkomitmen bagi pengembangan budaya Papua – PEMDA setempat,  Perusahaan, Lembaga maupun perorangan – sekaligus  ingin menggarapnya dengan lebih baik

Lihat saja  Festival Danau Sentani (Jayapura)  dilaksanakan oleh : Yayasan Danau Sentani (YDS), Festifal Budaya Kamoro ( Timika) disponsori oleh : PT Freeport Indonesia  dan Pesta Budaya Asmat yang dilaksanakan sejak tahun 1981 awalnya diprakarsai oleh Mgr Alfons Sowada, Uskup Pertama Keuskupan Agats. Festival ini  diadakan karena sejumlah desa tidak lagi mengukir. Padahal, ukiran Asmat memiliki arti yang lebih dalam dan spiritual. Ukiran Asmat erat dengan kepercayaan terhadap roh-roh leluhur.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa, ketiga festival tersebut terkesan berdiri sendiri-sendiri, namun suatu makna yang terkandung  festival tersebut adalah :  Pertama : Festival tersebur menjadi  sarana untuk menggali potensi lokal, juga berupaya meningkatkan daya saing masyarakat dan daerah melalui kreativitas seni dan budaya sehingga dapat menopang masyarakat menuju kemandirian, serta mengenalkan budaya Papua ke tingkat nasional maupun Internasional.

Kedua : Sebagai  pencegah degradasi nilai-nilai seni dan budaya lokal akibat pengaruh globalisasi informasi dan teknologi, di samping sebagai upaya menciptakan lapangan kerja baru melalui seni dan budaya dalam rangka peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.

Apabila kita lihat dari  jumlah pengunjung dan “gaung” yang terdengar sebelum Festival tersebut dilaksanakan, agar dapat menarik sebanyak mungkin wisatawan lokal maupun Mancanegara (Internasional), maka secara jujur harus diakui bahwa festival budaya Papua masih belum  maksimal.

Berangkat dari itikad baik bersama untuk memajukan budaya Papua sebagai asset bangsa, maka diperlukan berbagai  upaya dan kerja-sama yang kostruktif  antara Pemerintah dan Masyarakat  agar secara sadar bersama-sama mengembangkan potensi Budaya sebagai milik bersama, yang pada akhirnya dapat ikut mengembangkan pendapatan masyarakat.

Pemerintah Profinsi Papua hendaknya memberikan perhatian yang lebih serius untuk menggarap festival-festival Budaya Papua  melalui : Pertama:  pembuatan suatu master plan mengenai pengembangan & pembinaan budaya di tanah Papua secara menyeluruh dan sistimatis yang dilaksanakan berkesinambungan (dari satu gubernur – ke – gubernur lainnya) termasuk didalamnya jadwal tetap Festival Budaya Papua. Disamping itu aktif memberikan mempromosikan budaya Papua  ke mancanegara  dan memberikan suntikan dana bagi pengembangan budaya, serta sarana prasarana penujang lainnya.

Kedua : mempersiapkan sarana – prasarana penunjang seperti tranportasi dan hotel serta kondisi keamanan yang kondusif, sehingga para turis asal mancanegara maupun lokal dapat mudah mengakses Lokasi  pelaksanaan Festival  dengan nyaman.

Disamping itu Masyarakat Papua sendiri ditantang untuk  selalu belajar menghargai budaya sendiri serta mempunyai keinginan untuk terus berinovasi serta menggali  dan mengasah ketrampilan mengukir, menari, serta yang tidak kalah penting adalah terus mempertahankan nilai-nilai budaya Papua yang luhur.

Jalur Internasional.

Salah satu terobosan yang perlu dilakukan PEMDA Papua adalah  mampu meyakinkan pihak Jakarta  untuk membuka keterisolasian Tanah Papua dari dunia Internasional dengan mengkatifkan  kembali Jalur penerbangan Internasional Los Angeles – Honolulu – Biak yang terputus (diputus ?) beberapa waktu yang lalu.

Bila perlu Pemda Papua berinisyatif  untuk membuka jalur penerbangan lainnya dari Australia atau dari Eropa ke Australia pp via lapangan terbang Internasional Frans Kaisiepo Biak.

Dengan demikian  Tema  Pesta Budaya ke-XXIII Tahun ini : “Menjadikan Asmat Milik Dunia” akan menjadi kenyataan, karena berbagai bangsa dapat dengan mudah mengakses Asmat atau tempat pelaksanaan festival budaya Papua lainnya secara langsung dan nyaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: