AIDS DI TIMIKA MENGKHAWATIRKAN


AIDS DI TIMIKA MENGKHAWATIRKAN
Oleh : Fredrik Wakum

Bertepatan dengan Hari sumpah Pemuda 28 October, Harian  RADAR  TIMIKA menurunkan Headline News  yang cukup  menarik : “2006, Penderita AIDS meningkat 13 persen”

Pada kalimat terakhir alinea pertama tertulis :….Terbukti dari penderita AIDS Tahun lalu yang “hanya” berjumlah 5321 orang, tahun 2006 meningkat menjadi 6987 orang ( Radar Timika, sabtu 28 October 2006).

Akan semakin menarik lagi ketika membandingkan data Nasional tersebut dengan Propinsi Papua dan secara khusus Timika. Secara Nasional Data AIDS  menunjukkan  angka 6987 orang,  sementara Propinsi Papua dengan populasi penduduk 2,1 juta jiwa “memiliki” 2.703 orang, sedangkan Kabupaten Mimika  “menyumbang” 1067 orang penderita AIDS, suatu jumlah yang tidak sangat mengkhawatirkan.

Maka tidak berkelebihan jika Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Wakil Gubernur Alex Hesegem, pada ”Konsultasi Legal Drafting” Perda Penanggulangan HIV/ AIDS di Provinsi Papua” yang berlangsung selama dua hari di Jayapura beberapa waktu lalu, menyebutkan Epidemi HIV/ AIDS di Papua sudah pada taraf makin mengkhawatirkan. Saat ini Provinsi Papua memiliki prevalensi kasus HIV/AIDS hingga Juni 2006 sudah mencapai 2.703 kasus atau tertinggi di Indonesia. (Suara Pembaruan 05 Oct 2006)

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah kasus HIV/AIDS di Papua sudah menyebar dalam populasi umum (generalized epidemic). Estimasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua 2005, diperkirakan sekitar 11.000 hingga 12.000 orang di Papua terinfeksi HIV.

Pada kesempatan yang lain, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi Papua drh Costant Karma, dalam ”Temu Regional IV KPA se Tanah Papua” di Hotel Sentani Indah beberapa waktu lalu mengingatkan bahwa jumlah kasus HIV/AIDS di Papua meningkat tajam. Mereka yang terkena HIV/AIDS tidak pandang bulu, laki-laki, perempuan, pelajar, orang-orang yang telah berkeluarga dari keluarga baik-baik, dan sebagainya.

Dari sekian banyak kasus yang ditemukan di Papua, sebagian besar penularan HIV/AIDS melalui terjadi melalui hubungan seksual. “Dari data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sampai dengan 31 Maret 2006 yang lalu, telah  mencapai 2.199 kasus, tersebar hampir di semua kabupaten/kota. Data tersebut adalah kasus yang ditemukan dan dilaporkan, tetapi sesungguhnya masih banyak di masyarakat mengingat HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es,” ujarnya.

Diungkapkan, dari penduduk Papua berusia 15-19 tahun sebanyak 977.200 orang, diperkirakan yang terpapar HIV mencapai 660.000 orang (67,9 persen). Berdasarkan estimasi Depkes pada November 2003, HIV/AIDS diperkirakan menulari 14.280 orang yang berdiam di Papua, terdiri atas 10.690 laki-laki pelanggan pekerja seks dan pramuria 10.690 (37 persen atau sekitar 4.700 di antaranya adalah warga asli Papu), 2.800 orang pasangan tetap, dan 790 wanita pekerja seks dan pramuria.

Apabila dilihat dari kelompok umur, lanjut Costant Karma, mereka yang terserang HIV/AIDS, umumnya terdapat pada kelompok usia produktif (20-29 tahun) sebesar 41 persen kelompok umur 30-39 tahun sebesar 25 persen, dan kelompok umur 40-49 tahun sebesar 9 persen.

Tiga tahun terakhir, penularan HIV pada ibu rumah tangga meningkat signifikan. Penularan dikalangan pelajar umur 15-19 tahun sebanyak 224 atau sekitar 8,3 persen. Ini ke depan akan sangat mempengaruhi sumber daya manusia dan masa depan Papua,” ujarnya.

Timika Teratas

Perkembangan AIDS di Timika juga sangat mencengangkan. Menurut data dari Dinkes Timika, pada  Tahun 2006  mereka-mereka yang terinfeksi penyakit AIDS berjumlah 1067 Orang, bila dibandingkan dengan seluruh jumlah penderita penyakit AIDS di Provinsi Papua  sebanyak  2.703  orang  (Juni 2006), Timika menduduki posisi  teratas di Papua, karena “menyumbang”  separuh penderita AIDS

Perkembangan AIDS di Timika terus meningkat tiap tahun, Semenjak  pertama kali  di Timika  Tahun 1996  4 kasus penderita AIDS, Tahun 1997  meningkat menjadi  7   (3 kasus baru ),Tahun 1998  13  (6 kasus baru), Tahun 1999  35  (22 kasus baru ), Tahun 2000  72  (37 kasus baru), Tahun 2001  158 (96 kasus baru ), Tahun 2002  268 (111 kasus baru ), Tahun 2003  486 (217 kasus baru ), Tahun 2004  716 (230 kasus baru ), Tahun 2005  1024 (308 kasus baru ), Tahun 2006   1067 ( 43 kasus baru ).

Penderita AIDS di Timika sebanyak 1067, kelompok  Usia produktif  antara 20  sampai 39 Tahun menduduki tempat teratas sebanyak 762 Orang. Sementara  berusia antara di bawah 1 Tahun  sebanyak 15 Orang, usia 1 – 4  sebanyak  5   Orang, Usia 5 – 14,  4  Orang. Usia 15 – 19,  4 Orang Usia 40 – 49,  63 Orang. Usia 50 – 59  sebanyak 20 Orang, berusia diatas  60 – tahun  5 Orang, tidak terdektesi  79 Orang

Apabila kita kelompokkan penderita AIDtersebut berdasatkan pekerjaan, Mak kelompok Ibu Rumah Tangga ( IRT) memegang record tertinggi sebanyak  223 orang, menyusul  Petani – 201, PSK – 195 Orang , Swasta – 105 Orang, Bayi dan Anak 20 Orang, Mhs dan Pelajar 18, PNS 16 Orang, TNI/Polri 12 Orang, Lain – lain 68 Orang dan yang tidak diketahui 209 Orang

Dari penampilan data-data tersebut, maka seluruh elemen masyarakat dan instansi-instansi terkait di Timika sebaiknya merapatkan barisan dan menempatkan masalah AIDS sebagai prioritas utama di Timika, karena sudah sangat menghawatirkan.

Implikasi dan penggulangan

Penyebaran HIV/AIDS bukan semata-mata hanya masalah kesehatan saja, tetapi mempunyai implikasi politik, ekonomi, sosial, etis, agama dan hukum bahkan dampak secara nyata, cepat atau lambat, menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia. Hal ini mengancam upaya bangsa untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS sangat tergantung kepada kemauan politik pada tingkat tinggi sebuah negara dan kesungguhan kepemimpinan dalam mengatasi masalah yang rumit ini.

Kesemuanya ini harus didukung dan dilakukan oleh instansi pemerintah, LSM dan swasta, serta masyarakat.Indonesia telah berupaya keras untuk menanggulangi HIV/AIDS tetapi hasilnya belum memuaskan.

Pendidikan dan penyuluhan yang didasari oleh norma agama dan budaya telah dilakukan bersamaan dengan intervensi kesehatan masyarakat seperti pencegahan, pengobatan infeksi menular seksual, upaya pengobatan, perawatan dan dukungan bagi ODHA.

Upaya pencegahan dilakukan melalui pendidikan dan penyuluhan masyarakat terutama ditujukan kepada populasi berisiko yang mudah menyebarkan penyakit. Upaya pengobatan dan perawatan yang dilakukan baik berbasis klinis maupun masyarakat perlu dikembangkan untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah ODHA.

Salah satu faktor penting yang menjadi kendala adalah pendanaan.Kendala ini dapat diatasi dengan menjalin koordinasi diantara instansi yang terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS. Pemerintah daerah mempunyai peran penting dalam penanggulangan HIV/AIDS dengan adanya kewenangan otonomi daerah sehingga dapat menyediakan dana yang cukup.

Maka Pemerintah Pusatpun mengaluarkan “Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS” yang  dimaksudkan sebagai pedoman bagi semua sektor pemerintah, pemerintah daerah, LSM, swasta dan dunia kerja serta lembaga donor dalam menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia. Setiap pelaksana program dapat mengembangkan lebih lanjut strategi dan kegiatan sesuai dengan tugas, fungsi dan kemampuan masing-masing.

Dari kajian berbagai dokumen dan masukan dari berbagai pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS selama ini, diidentifikasi tujuh area prioritas penanggulangan HIV/AIDS untuk lima tahun mendatang yaitu:(1). Pencegahan HIV/AIDS.(2). Perawatan, Pengobatan dan Dukungan terhadap ODHA. (3). Surveilans HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual. (4). Penelitian dan Riset Operasional. (5). Lingkungan Kondusif. (6). Koordinasi Multipihak. (7). Kesinambungan Penanggulangan.

Stranas ini memuat dasar-dasar penanggulangan HIV/AIDS sebagai panduan pokok bagi semua pihak yang melaksanakan kegiatan penanggulangan HIV/AIDS.

Dasar-dasar tersebut meliputi: (1). Perhatian terhadap nilai-nilai agama dan budaya / norma masyarakat Indonesia dan upaya mempertahankan serta memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga. (2). Memperhatikan kelompok masyarakat rentan termasuk kelompok marginal. (3). Menghormati HAM dan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender. (4). Mengutamakan pencegahan melalui KIE dengan penggunaan cara yang efektif. (5). Diselenggarakan secara multipihak berdasarkan prinsip kemitraan dengan peranan pemerintah sebagai pengarah dan pembimbing. (6). Masalah HIV/AIDS merupakan masalah sosial kemasyarakatan. (7). Upaya penanggulangan harus berdasarkan data dan fakta ilmiah.

Kepedulian Bersama,

Peran dan tanggung jawab berbagai pihak terkait dikemukakan dengan jelas yang antara lain mencerminkan peran yang besar dari penyelenggara di daerah, termasuk DPR dan DPRD, lembaga non pemerintah termasuk LSM dan swasta/dunia usaha.

Kesepakatan dan kepemimpinan Daerah yang kuat serta koordinasi di semua lini mutlak diperlukan dalam pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS. Tujuan Strategi Nasional tidak akan tercapai bila tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, sistematis, konsisten dan melalui mekanisme yang jelas.

Dan yang paling utama adalah peduli pada Diri sendiri, Istri dan keluarga serta lingkungan dalam memerangi AIDS dengan perliku  sex  yang beranggung jawab, karena kita tidak akan  menyadari jika penyakit tersebut telah berada di dalam diri kita, saat sadar kita sudah  terlambat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: